Membedah 'Sirkuit' Otak Anak ADHD dan ASD
- 31 Mar 2026 15:10 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Memahami kondisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan Autism Spectrum Disorder (ASD) kini tidak lagi sekadar melihat perilaku luar anak. Kemajuan teknologi kedokteran saraf (neurologi) telah membuka tabir tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam "sirkuit" otak mereka.
Bagi orang tua, memahami sisi medis ini adalah langkah krusial untuk memberikan penanganan yang tepat dan suportif bagi buah hati.
Koneksi Saraf yang Berbeda: Temuan Jurnal Medis
Melansir studi dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry serta literatur dari The Lancet. Batam, 31 Maret 2026, terdapat perbedaan mendasar pada cara otak anak dengan ADHD dan ASD memproses informasi:
1. Masalah 'Rem' pada ADHD (Prefrontal Cortex) Jurnal neurologi sering menyoroti area prefrontal cortex—bagian otak yang berfungsi sebagai "pusat kendali". Pada anak ADHD, transmisi neurotransmitter seperti dopamin seringkali kurang efisien.
- Dampaknya: Anak kesulitan melakukan "pengereman" terhadap impuls. Secara fisik, ini terlihat dari perilaku yang terus bergerak atau sulit fokus karena otak mereka sedang mencari stimulasi konstan.
2. Konektivitas Berlebih pada ASD (Hyper-connectivity) Berbeda dengan ADHD, jurnal kedokteran saraf sering menemukan fenomena hyper-connectivity pada anak ASD. Sambungan antar saraf di area sensorik cenderung sangat padat.
- Dampaknya: Otak menerima informasi sensorik (suara, cahaya, tekstur) secara berlebihan. Hal inilah yang menjelaskan mengapa anak ASD sering mengalami sensory overload yang memicu reaksi fisik tertentu.
Tips Penanganan Awal bagi Orang Tua
Sembari menunggu jadwal konsultasi dengan ahli, langkah-langkah kecil di rumah bisa sangat membantu menenangkan sistem saraf anak:
- Ciptakan Lingkungan yang Terprediksi: Gunakan jadwal harian visual agar anak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hal ini membantu menurunkan kecemasan saraf.
- Minimalisir Stimulasi Berlebih: Jika anak tampak sensitif terhadap suara, sediakan area tenang di rumah yang minim gangguan visual dan audio.
- Validasi, Bukan Menghukum: Pahami bahwa perilaku "nakal" atau "sulit diatur" sering kali merupakan reaksi sistem saraf yang sedang kewalahan, bukan kesengajaan anak.
"Mengenal cara kerja otak anak adalah bentuk kasih sayang yang paling nyata. Kita tidak sedang memperbaiki anak, tapi sedang membangun jembatan agar mereka bisa berkomunikasi dengan dunia sekitarnya," pungkas sebuah tinjauan dalam jurnal psikologi perkembangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....