Korea Selatan Waspada Penyebaran Tiga Penyakit Ternak Mematikan
- 16 Mar 2026 15:09 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Pemerintah Korea Selatan meningkatkan kewaspadaan nasional setelah tiga penyakit ternak utama menyebar secara bersamaan di berbagai wilayah negara tersebut. Ketiga penyakit tersebut adalah flu burung patogen tinggi atau Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI), demam babi Afrika, dan penyakit mulut dan kuku. Otoritas karantina menempatkan ketiganya pada tingkat peringatan tertinggi dari empat level yang berlaku di negara itu karena berpotensi menyebar cepat dan menimbulkan kerugian ekonomi besar.
Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan Korea Selatan juga memperpanjang periode karantina khusus hingga akhir Maret sebagai langkah pengendalian. Ketiga penyakit tersebut termasuk kategori penyakit menular ternak paling berbahaya di negara tersebut. Secara global, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia juga mengklasifikasikannya sebagai penyakit kategori paling serius karena dapat dengan cepat menyebar lintas negara dan mengganggu perdagangan internasional produk peternakan.
Data pemerintah menunjukkan peningkatan kasus yang signifikan pada musim dingin 2025–2026. Wabah flu burung terdeteksi di 56 peternakan unggas, meningkat dibandingkan musim sebelumnya. Demam babi Afrika juga menyebar dengan cepat dengan lebih dari 20 kasus terkonfirmasi dalam waktu sekitar dua bulan, menjadi jumlah tertinggi sejak penyakit tersebut pertama kali muncul di Korea Selatan pada 2019. Selain itu, beberapa kasus penyakit mulut dan kuku juga telah ditemukan pada tahun 2026.
Dampak dari penyebaran penyakit ini mulai terasa pada pasokan produk peternakan. Lebih dari 9,8 juta ayam petelur dimusnahkan selama musim dingin untuk mencegah penyebaran flu burung, jumlah tertinggi dalam lima tahun terakhir. Akibatnya, produksi telur diperkirakan menurun hampir enam persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pemusnahan babi akibat demam babi Afrika juga meningkat tajam hingga melampaui 150 ribu ekor.
Para analis memperkirakan situasi ini dapat menyebabkan kenaikan harga produk peternakan di Korea Selatan, terutama daging babi dan telur. Kenaikan harga daging babi diproyeksikan mencapai lebih dari tiga persen pada 2026 akibat menurunnya pasokan. Kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pangan dan perdagangan produk peternakan di kawasan Asia Timur, mengingat Korea Selatan merupakan salah satu pasar besar bagi produk unggas dan daging di kawasan tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....