Overhidrasi Bisa Mengganggu Fungsi Ginjal
- 03 Mar 2026 06:54 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Air sering dianggap sebagai solusi untuk berbagai keluhan kesehatan. Namun, konsumsi air yang berlebihan justru dapat menimbulkan risiko bagi ginjal.
Mengutip laporan dari Hindustan Times pada Senin (2/3), konsultan nefrologi dari ISIC Multispeciality Hospital, Dr. Udit Gupta, menjelaskan bahwa saran “perbanyak minum air” tidak sesederhana yang kerap dipercaya dan memiliki banyak pertimbangan.
Ia menegaskan pentingnya mengetahui jumlah cairan yang benar-benar dibutuhkan tubuh. Jika melebihi kebutuhan, seseorang dapat mengalami kelebihan cairan (overhidrasi), yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Menurutnya, kebutuhan hidrasi setiap orang berbeda, dipengaruhi oleh berat badan, kondisi cuaca, aktivitas fisik, hingga kesehatan secara umum.
| Baca juga: Rahasia Sehat Minum Air Hangat Pagi Hari |
Dr. Gupta memberi contoh bahwa anak yang aktif berolahraga di luar ruangan saat musim panas tentu membutuhkan lebih banyak cairan dibanding orang dewasa yang bekerja di ruang ber-AC. Sebaliknya, mereka yang mengonsumsi makanan tinggi kandungan air seperti buah dan sayuran mungkin memerlukan asupan air yang lebih sedikit.
Untuk menjaga kesehatan ginjal, ia menekankan bahwa yang terpenting adalah menjaga hidrasi secara konsisten. Pada orang dewasa, produksi urine normal biasanya berkisar 1,5–2 liter per hari—angka yang dapat disesuaikan untuk anak sesuai usia dan ukuran tubuh. Artinya, fokus seharusnya bukan pada jumlah gelas yang diminum, tetapi pada apakah tubuh menghasilkan urine dalam jumlah yang cukup untuk membantu pembuangan racun.
Dr. Gupta mengingatkan bahwa minum air terlalu banyak tidak selalu memberikan manfaat tambahan. Overhidrasi bisa menurunkan kadar natrium dalam darah (hiponatremia), kondisi yang dapat membahayakan dan juga berdampak buruk pada ginjal. Ia menyebut bahwa bagi kebanyakan orang sehat, minum air melebihi rasa haus tidak akan membuat fungsi ginjal menjadi lebih baik, karena ginjal sudah bekerja optimal dalam rentang asupan cairan yang luas.
| Baca juga: Rutin Makan Ini, Asam Urat Rontok Sebulan |
Warna urine sering dijadikan acuan hidrasi. Namun ia menjelaskan, urine tidak harus selalu bening. Urine yang terlalu jernih justru dapat menandakan tubuh kelebihan cairan. Warna kuning pucat menunjukkan hidrasi yang baik, sementara urine berwarna kuning gelap atau keemasan mengindikasikan dehidrasi dan perlu peningkatan asupan cairan.
Rasa haus sendiri biasanya muncul ketika seseorang sudah mulai mengalami dehidrasi ringan. Dr. Gupta mengingatkan bahwa kelompok tertentu, seperti anak-anak dan lansia, sering kali tidak peka terhadap sinyal haus. Atlet, orang yang mengalami demam, muntah, atau diare, serta mereka yang tinggal di daerah panas, juga perlu lebih aktif memastikan kecukupan cairan dan tidak hanya mengandalkan rasa haus.
Ia menambahkan bahwa orang dewasa rata-rata memerlukan 2–3 liter cairan per hari, termasuk dari makanan. Kebutuhan anak berbeda tergantung usia dan ukuran tubuh. Namun individu dengan kondisi medis tertentu harus berhati-hati—penderita penyakit ginjal, gangguan jantung, atau masalah kesehatan lainnya sebaiknya mengikuti arahan dokter, karena sebagian justru perlu membatasi cairan.
“Ginjal Anda dirancang untuk bekerja secara efisien. Yang mereka butuhkan hanyalah cairan dalam jumlah cukup, bukan berlebihan,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....