Tidur Berkualitas untuk Menjaga Kebugaran Selama Bulan Ramadan

  • 28 Feb 2026 10:42 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Perubahan pola makan dan aktivitas ibadah di malam hari selama bulan Ramadan sering kali berdampak pada berkurangnya durasi tidur seseorang. Kebiasaan bangun lebih awal untuk santap sahur dan tidur lebih larut karena ibadah tarawih atau tadarus dapat menyebabkan kantuk berlebih di siang hari jika tidak dikelola dengan baik. Kurang tidur yang berkepanjangan tidak hanya menurunkan konsentrasi saat bekerja, tetapi juga dapat melemahkan sistem imun tubuh yang sangat dibutuhkan saat sedang menjalankan ibadah puasa.

Untuk menyiasati berkurangnya waktu istirahat, para ahli kesehatan menyarankan masyarakat untuk menerapkan pola tidur yang konsisten dan memanfaatkan waktu luang dengan bijak. Salah satu strategi yang efektif adalah dengan tidur lebih awal setelah menunaikan ibadah malam dan menghindari penggunaan gawai yang dapat menunda rasa kantuk.

Berdasarkan informasi resmi dari situs kemkes.go.id, Kementerian Kesehatan menyarankan masyarakat untuk tetap mengupayakan total waktu tidur sekitar 7 sampai 9 jam sehari dengan cara mencicil waktu istirahat, seperti tidur lebih awal di malam hari dan menambah tidur singkat atau power nap di siang hari.

Selain durasi, kualitas tidur juga sangat dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi sebelum memejamkan mata. Hindari mengonsumsi kafein secara berlebihan saat berbuka puasa atau sebelum tidur karena dapat menyebabkan gangguan tidur atau insomnia. Sebaliknya, mengonsumsi makanan ringan yang bergizi dan mencukupi kebutuhan cairan tubuh akan membantu proses relaksasi otot sehingga tubuh terasa lebih segar saat terbangun untuk sahur. Lingkungan tidur yang tenang dan suhu ruangan yang nyaman juga menjadi faktor pendukung utama dalam mencapai tidur yang berkualitas.

Kesadaran akan pentingnya manajemen waktu tidur ini menjadi kunci utama agar produktivitas tetap terjaga selama bulan suci. Dengan menjaga keseimbangan antara kewajiban ibadah, pekerjaan, dan istirahat yang cukup, seseorang dapat menjalani puasa dengan kondisi fisik yang tetap prima dan mental yang stabil. Kedisiplinan dalam mengatur jam tidur bukan hanya soal mengusir rasa kantuk, melainkan bentuk investasi kesehatan jangka panjang agar tubuh tidak rentan terhadap penyakit akibat kelelahan yang berlebihan di akhir bulan Ramadan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....