Studi Terbaru Ungkap Dampak Kurang Tidur pada Sel Otak

  • 25 Feb 2026 14:19 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Kekurangan tidur tidak hanya membuat seseorang mengantuk atau lesu keesokan harinya, tetapi juga berdampak mendalam pada kondisi sel-sel otak, menurut berbagai penelitian terbaru tentang efek sleep deprivation. Para ilmuwan kini semakin memahami bagaimana kurang tidur dapat mengganggu fungsi dasar neuron dan jaringan otak — yang pada akhirnya memengaruhi kemampuan kognitif dan kesehatan jangka panjang.

Penelitian bio­kimia menunjukkan bahwa kurang tidur bisa memengaruhi ekspresi gen di otak, terutama di area hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan memori dan pemrosesan informasi. Analisis tingkat molekul menunjukkan adanya perubahan ekspresi ribonukleat dan protein penting setelah episode sleep deprivation, yang bisa berdampak pada fungsi seluler di neuron.

Menurut riset ultrastruktural dari jurnal SLEEP, akumulasi sleep loss kronis dapat mengubah struktur organel di dalam neuron — termasuk mitokondria, inti sel, dan sistem transportasi intraselular. Perubahan ini berpotensi mengganggu proses penting seperti sintesis protein dan metabolisme energi sel otak.

“Ketika tubuh tidak mendapatkan tidur yang cukup secara berulang, proses pemulihan dan pembersihan metabolit di otak tidak berjalan optimal. Hal ini bisa meningkatkan stres oksidatif dan peradangan di jaringan saraf,” terang Dr. Anita Wijaya, ahli neurologi dari Universitas Indonesia.

Penelitian hewan juga menunjukkan bahwa kurang tidur berulang kali dapat merusak sel-sel pendukung seperti pericyte — komponen penting dari blood-brain barrier — serta berkontribusi pada disfungsi neurovaskular, yang berujung pada risiko penyakit neurodegeneratif.

Tak hanya struktur, fungsi otak pun terganggu saat tidur terganggu. Studi dalam jurnal Brain Communications (2025) menyimpulkan bahwa pra­kondisi sleep deprivation berdampak buruk pada performa kognitif, termasuk fungsi memori, suasana hati, dan perilaku yang mirip gangguan depresi dan kecemasan pada model hewan.

“Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa kurang tidur bukan sekadar rasa kantuk sementara — ini memberikan dampak nyata pada sel dan jaringan otak yang berkaitan dengan memori, perhatian, dan pembelajaran,” ujar Prof. Budi Santoso, peneliti saraf dari Lembaga Penelitian Kesehatan Nasional.

Para ahli juga menekankan bahwa mekanisme penting seperti sistem glymphatic yang berfungsi membersihkan metabolit dari otak selama tidur sangat terganggu ketika tidur terganggu atau kurang. Akibatnya, akumulasi zat seperti beta-amyloid yang disalahkan pada penyakit Alzheimer bisa meningkat.

Dengan bukti yang semakin kuat dari berbagai studi, ahli kesehatan menyarankan agar masyarakat memandang tidur sebagai prioritas kesehatan, bukan sekadar waktu istirahat. Tidur cukup secara rutin, misalnya 7–9 jam per malam bagi orang dewasa, memberikan kesempatan bagi otak untuk memperbaiki diri dari kerusakan dan menjaga fungsi seluler tetap optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....