Perbedaan Puasa Intermiten VS Puasa Ramadhan

  • 20 Feb 2026 21:38 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Puasa intermiten dan puasa Ramadhan kerap dianggap serupa karena sama-sama membatasi waktu makan. Namun, menurut ahli gizi, keduanya memiliki perbedaan mendasar baik dari segi tujuan, aturan, maupun dampaknya terhadap pola konsumsi sehari-hari.

Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi umat Muslim yang dilaksanakan selama satu bulan penuh. Tujuan utamanya adalah menjalankan perintah agama sekaligus melatih pengendalian diri, meningkatkan spiritualitas, serta membangun empati sosial. Dalam praktiknya, puasa Ramadhan dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Selama rentang waktu tersebut, seseorang tidak diperbolehkan makan maupun minum. Artinya, tidak ada asupan kalori ataupun cairan sama sekali hingga waktu berbuka tiba.

Sementara itu, puasa intermiten atau intermittent fasting umumnya dilakukan dengan tujuan kesehatan. Banyak orang menerapkannya untuk membantu menurunkan berat badan, memperbaiki metabolisme, atau menjaga kadar gula darah tetap stabil. Pola puasa ini memiliki beberapa metode yang fleksibel, seperti 16:8 (berpuasa 16 jam dan makan dalam jendela 8 jam), 5:2 (makan normal selama lima hari dan membatasi kalori pada dua hari tertentu), hingga pola satu kali makan dalam sehari. Berbeda dengan puasa Ramadhan, pada puasa intermiten biasanya masih diperbolehkan mengonsumsi air putih atau minuman tanpa kalori selama periode puasa.

Ahli gizi menjelaskan bahwa dari sisi fisiologis, keduanya memang dapat memberikan manfaat yang mirip, terutama dalam hal meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu tubuh menggunakan cadangan energi secara lebih efisien. Ketika tubuh tidak menerima asupan makanan selama beberapa jam, tubuh akan mulai memanfaatkan cadangan glikogen dan kemudian lemak sebagai sumber energi. Proses ini yang sering dikaitkan dengan penurunan berat badan.

Namun demikian, penting untuk dipahami bahwa manfaat tersebut tidak akan optimal jika pola makan saat berbuka atau dalam jendela makan tidak terkontrol. Baik dalam puasa Ramadhan maupun puasa intermiten, konsumsi makanan yang berlebihan atau tinggi gula dan lemak tetap dapat mengganggu keseimbangan energi tubuh. Bahkan, jika asupan kalori terlalu rendah dalam jangka panjang, tubuh berisiko kehilangan massa otot, bukan hanya lemak.

Pada puasa Ramadhan, tantangan utama bukan hanya pada pembatasan makan, tetapi juga pada pengaturan hidrasi. Karena tidak ada asupan cairan sepanjang siang hari, penting untuk memastikan kebutuhan cairan terpenuhi saat sahur dan berbuka. Selain itu, pemilihan menu yang seimbang — mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serat, serta vitamin dan mineral — sangat dianjurkan agar tubuh tetap bertenaga dan tidak mudah lemas.

Di sisi lain, puasa intermiten memberi keleluasaan dalam menentukan waktu makan sesuai rutinitas individu. Namun fleksibilitas ini tetap memerlukan perencanaan yang matang agar kebutuhan nutrisi harian tercukupi. Tanpa perhitungan yang tepat, puasa intermiten justru dapat menyebabkan defisit energi berlebihan atau pola makan tidak teratur.

Kesimpulannya, meskipun secara konsep sama-sama membatasi waktu makan, puasa Ramadhan dan puasa intermiten memiliki landasan yang berbeda. Puasa Ramadhan berorientasi pada ibadah dengan manfaat kesehatan sebagai dampak tambahan, sedangkan puasa intermiten berfokus pada tujuan kesehatan dengan pendekatan yang lebih fleksibel. Dalam kedua praktik tersebut, kunci utamanya tetap sama: menjaga pola makan seimbang, memperhatikan kebutuhan energi, dan memastikan tubuh mendapatkan nutrisi yang cukup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....