Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan terhadap Virus Nipah

  • 02 Feb 2026 07:56 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus nipah.Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes, Murti Utami, menjelaskan bahwa virus nipah adalah penyakit zoonotik yang berasal dari kelelawar pemakan buah sebagai inang utamanya.

Penularan virus ini dapat terjadi melalui hewan lain, seperti babi, maupun dari makanan dan minuman yang terkontaminasi, misalnya buah atau nira.Sebagai langkah pencegahan, Murti mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohonnya karena ada kemungkinan cairan tersebut terpapar oleh kelelawar pada malam hari.

"Karena itu, nira atau aren sebaiknya dimasak terlebih dahulu sebelum diminum. Selain itu, pastikan buah dicuci dan dikupas bersih, serta buang buah yang menunjukkan bekas gigitan kelelawar," ujarnya, dikutip dari Antara, Minggu (1/2).Murti juga memaparkan hasil penelitian di Indonesia yang menemukan bukti serologis dan keberadaan virus pada kelelawar buah (Pteropus sp.) sebagai inang alami, sehingga menunjukkan adanya potensi sumber penularan di dalam negeri.

"Penularan antarmanusia telah dilaporkan, terutama melalui kontak dekat dengan pasien. Gejala klinis bisa beragam, mulai dari ISPA ringan hingga berat, serta ensefalitis (radang otak) yang berpotensi menyebabkan kematian," tambahnya.Kasus virus nipah kembali menjadi sorotan dunia setelah meningkat di India.

Hingga 26 Januari 2026, dua kasus terkonfirmasi dilaporkan di Distrik North 24 Parganas, West Bengal, tanpa adanya korban jiwa. Kedua kasus tersebut merupakan tenaga kesehatan. Lebih dari 120 kontak erat telah diidentifikasi dan menjalani karantina sambil proses investigasi berjalan.Di Indonesia, Kemenkes menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus virus nipah.

Peringatan dan arahan kewaspadaan kepada seluruh dinas kesehatan di Indonesia disampaikan melalui Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/445/2026 pada 30 Januari 2026."Walaupun belum ada laporan kasus virus nipah pada manusia di Indonesia, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat posisi geografis dan intensitas mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa," jelas Murti.

Ia meminta seluruh dinas kesehatan, mulai tingkat kabupaten/kota hingga provinsi, untuk terus memonitor dan memverifikasi tren kasus yang mengarah pada dugaan meningitis/ensefalitis, Influenza Like Illness (ILI), Severe Acute Respiratory Infection (SARI), ISPA, serta pneumonia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....