Zuckerberg Berbeda Sikap dengan Bos OpenAI dan Elon Musk soal Pengembangan AI

  • 30 Sep 2026 23:22 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Persaingan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin ketat. Di tengah kekhawatiran sejumlah tokoh teknologi mengenai risiko AI yang berkembang terlalu cepat, CEO Meta Mark Zuckerberg justru menilai perusahaan tidak membutuhkan koordinasi industri untuk memperlambat pengembangan AI.

Pernyataan tersebut disampaikan Zuckerberg dalam wawancara dengan NBC News. Ia mengatakan setiap perusahaan AI seharusnya dapat menentukan sendiri kapan pengembangan perlu diperlambat atau dihentikan sementara apabila menemukan persoalan keamanan.

Menurut Zuckerberg, koordinasi seluruh industri bukan sesuatu yang diperlukan. Setiap laboratorium AI dinilai dapat melakukan evaluasi secara internal dan mengambil waktu yang dibutuhkan untuk memastikan teknologi yang dikembangkan tetap aman.

Sikap Zuckerberg berbeda dengan pandangan sejumlah tokoh AI lainnya. CEO Anthropic Dario Amodei sebelumnya menyerukan agar perusahaan-perusahaan AI mengatur laju pengembangan teknologi tersebut. Seruan itu mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman, salah satu pendiri Google DeepMind Demis Hassabis, serta Elon Musk dari xAI.

Kekhawatiran terhadap perkembangan AI juga muncul dari kalangan peneliti. Mantan peneliti Anthropic, Jacob Coxon, misalnya, mengundurkan diri pada awal September setelah menyampaikan kekhawatiran bahwa sistem AI dapat berkembang di luar kendali dalam beberapa tahun mendatang.

Namun, Zuckerberg menilai mekanisme pasar dan perilaku pengguna juga dapat menjadi salah satu pengendali perkembangan teknologi. Menurutnya, pengguna tidak akan memilih produk yang dianggap tidak aman atau tidak mampu menjalankan fungsi sesuai kebutuhan mereka.

Di sisi lain, Meta terus mengembangkan teknologi agen AI. Salah satunya adalah Muse, agen AI yang dapat menjalankan berbagai tugas atas nama pengguna, seperti memesan tiket, membalas email, membuat rangkuman penelitian, hingga membatalkan langganan.

Muse juga dilengkapi sistem pengawasan bernama Sentinel. Sistem ini bertugas mengawasi tindakan agen utama. Jika Sentinel mendeteksi Muse berpotensi melampaui batas yang ditentukan, sistem tersebut dapat memberikan peringatan kepada pengguna dan meminta persetujuan sebelum tindakan dilakukan.

Pengembangan agen AI tersebut sekaligus memunculkan persoalan baru mengenai privasi. Agen yang mampu menjalankan berbagai tugas membutuhkan akses terhadap sejumlah informasi pengguna, sehingga keamanan dan pengelolaan data menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.

Zuckerberg mengatakan Meta berupaya menjaga keamanan informasi pengguna. Ia juga menunjuk pengalaman perusahaan dalam pengelolaan privasi serta penggunaan enkripsi pada layanan perpesanan WhatsApp sebagai bagian dari pendekatan tersebut.

Berbeda dari sejumlah pihak yang memperingatkan kemungkinan terburuk perkembangan AI, Zuckerberg justru menyatakan optimistis terhadap masa depan teknologi tersebut. Ia menilai tantangan penting berikutnya adalah memastikan AI mampu memahami keinginan, niat, serta batasan pengguna.

Perbedaan pandangan ini menunjukkan adanya perdebatan di kalangan industri teknologi mengenai cara mengembangkan AI secara aman. Sebagian tokoh mendorong pengendalian laju pengembangan dan koordinasi yang lebih luas, sementara Zuckerberg menekankan pengawasan internal masing-masing perusahaan serta kemampuan AI untuk memahami kebutuhan penggunanya.

Di tengah perdebatan tersebut, perusahaan teknologi tetap berlomba mengembangkan model dan agen AI yang semakin mampu menjalankan tugas secara mandiri. Tantangannya kini tidak hanya terletak pada kemampuan teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan sistem tersebut tetap berada dalam batas yang diinginkan manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....