Melalui Project Suncatcher, Google Siap Uji Pusat Data Luar Angkasa
- 30 Sep 2026 15:44 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam – dalam beberapa waktu kedepan Google bersiap melakukan eksperimen besar di luar angkasa dengan menguji konsep pusat data khusus kecerdasan buatan atau AI di orbit Bumi.
Eksperimen tersebut merupakan bagian dari Project Suncatcher, sebuah proyek Google yang bertujuan mengembangkan pusat komputasi AI yang ditempatkan di luar angkasa dan memanfaatkan energi matahari sebagai sumber listrik.
Pada tahap awal, Google akan meluncurkan sebuah satelit prototipe berukuran kurang lebih sebesar lemari es. Satelit yang disebut sebagai MVP ini akan membawa empat Tensor Processing Unit, atau TPU, yang merupakan chip khusus buatan Google untuk menjalankan komputasi kecerdasan buatan.
Peluncuran satelit tersebut dijadwalkan pada 1 Oktober 2026 menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX. Google akan menguji kemampuan TPU untuk menjalankan berbagai proses AI, termasuk pelatihan model dan inferensi.
Salah satu daya tarik utama konsep ini adalah ketersediaan energi matahari di luar angkasa. Satelit prototipe tersebut akan dilengkapi panel surya yang diperkirakan mampu menghasilkan sekitar satu kilowatt listrik.
Namun, memindahkan pusat data ke luar angkasa bukan tanpa tantangan. Salah satu persoalan terbesar adalah sistem pendinginan. Berbeda dengan pusat data di Bumi yang dapat memanfaatkan udara untuk membantu membuang panas, ruang angkasa tidak memiliki atmosfer sehingga panas harus dilepaskan melalui sistem radiator.
Google juga harus menghadapi ancaman radiasi luar angkasa yang dapat mengganggu atau merusak komponen elektronik. Selain itu, perangkat harus mampu bertahan terhadap getaran dan tekanan yang terjadi selama proses peluncuran.
Dalam tahap pengujian awal, sistem pendinginan bahkan membuat TPU hanya dapat bekerja selama sekitar 15 menit sebelum harus dimatikan untuk memberikan waktu bagi perangkat mendinginkan diri.
Google menggunakan material khusus untuk membantu memindahkan panas dari TPU menuju heat pipe berbahan aluminium dan tembaga. Panas tersebut kemudian diarahkan ke radiator untuk dilepaskan ke ruang angkasa.
Dalam eksperimen ini, Google juga berencana menjalankan model AI Gemini pada TPU yang berada di satelit.
Jika eksperimen awal berhasil, Google berencana melanjutkan pengembangan teknologi tersebut. Pada 2027, perusahaan disebut akan meluncurkan dua satelit tambahan untuk menguji konsep tersebut secara lebih luas.
Dalam jangka panjang, Google membayangkan sebuah konstelasi sekitar 80 satelit yang dapat terbang berdekatan dan bekerja sama sebagai sebuah sistem komputasi AI di orbit.
Google bahkan mempertimbangkan penggunaan satelit dengan ukuran yang jauh lebih besar, hingga seukuran lapangan sepak bola.
Meski demikian, pusat data AI di luar angkasa saat ini masih merupakan proyek eksperimental. Berbagai persoalan seperti pendinginan, radiasi, komunikasi antarsatelit, keandalan perangkat, hingga biaya peluncuran masih harus dibuktikan melalui serangkaian pengujian.
Jika berhasil dikembangkan, konsep ini dapat membuka pendekatan baru dalam penyediaan infrastruktur komputasi AI dengan memanfaatkan energi matahari langsung dari luar angkasa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....