Pengembangan IoT Nelayan Masih Hadapi Tantangan Sinyal dan Ketahanan Alat
- 16 Sep 2026 04:44 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Pengembangan perangkat IoT untuk keselamatan nelayan pesisir di Pulau Batam masih menghadapi sejumlah tantangan teknis. Dua persoalan yang menjadi perhatian adalah ketersediaan jaringan seluler di laut dan ketahanan perangkat terhadap air.
Dosen Sistem Informasi Universitas Putra Batam, Erlin Elisa, mengatakan jaringan menjadi salah satu persoalan penting dalam penerapan perangkat di wilayah pesisir. Tidak seluruh provider dapat digunakan secara optimal di lokasi tempat tim melakukan pengujian. Hal itu disampaikan dalam dialog program Batam Menyapa di Studio PRO 1 RRI Batam, Rabu, 9 September 2026.
“Memang itulah salah satu masalah yang krusial di sana, jaringan salah satunya,” ujar Erlin.
Dalam pengujian awal, tim menggunakan kartu IM3 namun mengalami kendala karena jaringan yang tersedia di lokasi lebih mendukung provider XL. Setelah kartu diganti menggunakan XL, perangkat dapat berjalan dengan lebih baik dalam pengujian berikutnya.
Kondisi jaringan juga menjadi penting karena perangkat Panic Button mengandalkan komunikasi seluler untuk mengirimkan SMS. Karena itu, kemampuan alat dalam mengirimkan sinyal tetap bergantung pada jaringan yang dapat dijangkau perangkat.
Selain jaringan, ketahanan perangkat terhadap air juga masih menjadi bagian yang belum selesai diuji. Erlin menjelaskan casing perangkat sudah dibuat untuk menyatukan microcontroller, GPS Tracker, perangkat komunikasi, baterai dan antena, tetapi kemampuan casing bertahan ketika terkena air belum diketahui.
“Belum kami uji ketahanannya terhadap air itu belum, mungkin lebih lanjut,” kata Erlin.
Meski demikian, sistem yang dikembangkan sudah memiliki kemampuan menyimpan informasi rute ketika perangkat kehilangan sinyal. Data terakhir tersebut dapat menjadi informasi penting untuk mengetahui lokasi kapal sebelum kehilangan kontak.
Pada tahap awal, perangkat ditujukan untuk nelayan lokal dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh. Pengujian yang dilakukan tim memiliki jangkauan sekitar 30 kilometer dari daratan sehingga pengembangan untuk kondisi yang lebih jauh masih membutuhkan pengujian lanjutan.
Tim Universitas Putra Batam berharap program tersebut dapat dilanjutkan pada tahap berikutnya. Pengembangan lanjutan diperlukan untuk meningkatkan kemampuan perangkat, termasuk memperluas penggunaan pada kapal yang lebih besar, memperkuat sistem komunikasi dan menguji ketahanan perangkat terhadap kondisi lingkungan laut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....