Studi Astrofisika Ungkap Venus Diduga Pernah Menelan Bulannya

  • 15 Sep 2026 14:03 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Venus mungkin tidak selalu menjadi planet tanpa satelit alami seperti yang dikenal saat ini. Sebuah penelitian astrofisika terbaru mengajukan kemungkinan bahwa planet kedua dari Matahari itu pernah memiliki bulan, tetapi satelit tersebut pada akhirnya jatuh ke permukaan Venus akibat karakteristik rotasi planet yang sangat lambat.

Dilansir dari Reuters, teori tersebut dikembangkan oleh peneliti dari University of California, Riverside, dan diterbitkan dalam The Astrophysical Journal. Penelitian ini menawarkan penjelasan berbeda mengenai misteri mengapa Venus tidak memiliki bulan seperti Bumi.

Astrofisikawan Stephen Krane, yang menjadi penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa kecepatan rotasi Venus menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan nasib satelit yang mengorbitnya.

"Jika Venus memiliki bulan, dan kemungkinan besar memang pernah memilikinya, bulan tersebut tidak akan mampu bertahan. Bulan itu akan jatuh ke planet dalam waktu yang relatif singkat," kata Krane kepada Reuters.

Kesimpulan tersebut diperoleh setelah para peneliti menjalankan simulasi komputer dengan memasukkan prinsip fisika planet dan mekanisme gravitasi. Mereka menguji sejumlah skenario dengan menggunakan satelit hipotetis yang memiliki ukuran berbeda-beda.

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa perbedaan ukuran tidak mengubah akhir dari setiap skenario. Satelit yang mengorbit Venus pada akhirnya akan bergerak semakin mendekati planet sebelum mengalami tabrakan dan terserap ke dalam Venus.

Krane memperkirakan peristiwa tersebut, apabila benar pernah terjadi, berlangsung pada satu miliar tahun pertama perjalanan sejarah Venus. Sebagai bagian dari Tata Surya, Venus dan planet-planet lainnya terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu.

Selama ini terdapat beberapa teori untuk menjelaskan ketiadaan bulan di Venus. Salah satunya menyebut Venus memang tidak pernah berhasil membentuk atau menangkap satelit alami. Teori lain memperkirakan bulan Venus pernah ada, tetapi kemudian hancur akibat benturan dengan benda langit berukuran besar.

Rotasi Venus Jadi Petunjuk

Peneliti University of California, Riverside, kemudian membandingkan karakteristik Venus dengan sistem Bumi dan Bulan. Dari perbandingan tersebut, kecepatan rotasi planet ditemukan memiliki peranan penting terhadap perubahan orbit satelit.

Venus membutuhkan waktu sekitar 243 hari Bumi hanya untuk menyelesaikan satu putaran pada porosnya. Bahkan, waktu tersebut sedikit lebih panjang dibandingkan periode yang diperlukan Venus untuk mengelilingi Matahari.

Kondisi itu sangat berbeda dengan Bumi. Planet kita menyelesaikan satu rotasi hanya dalam waktu 24 jam, atau lebih dari 200 kali lebih cepat dibandingkan kecepatan rotasi Venus.

Pada sistem Bumi-Bulan, energi dari rotasi Bumi secara perlahan menyebabkan Bulan bergerak menjauh. Pengukuran menunjukkan satelit alami Bumi tersebut meninggalkan planet kita sekitar 4 sentimeter setiap tahun.

Pergerakan tersebut dapat diketahui secara presisi melalui perangkat pemantul cahaya yang dipasang astronaut misi Apollo 11 di permukaan Bulan pada 1969.

Selain persoalan bulan, Venus sendiri menjadi objek penting dalam penelitian mengenai evolusi planet. Kesamaan karakteristik fisiknya dengan Bumi membuat para ilmuwan menjadikan Venus sebagai salah satu rujukan untuk memahami bagaimana lingkungan planet dapat berkembang dengan kondisi yang sangat berbeda.

Venus memang sama-sama tersusun atas material berbatu dan memiliki ukuran yang sedikit lebih kecil daripada Bumi. Namun, atmosfernya jauh lebih ekstrem karena sangat tebal dan mengandung zat beracun.

Atmosfer tersebut menghasilkan efek rumah kaca yang berlangsung secara tak terkendali. Akibatnya, temperatur permukaan Venus dapat mencapai sekitar 471 derajat Celsius, atau 880 derajat Fahrenheit, yang bahkan cukup panas untuk melelehkan timbal.

Meski demikian, Krane menegaskan bahwa keberadaan bulan Venus pada masa lalu belum dapat dipastikan. Belum ada bukti langsung yang menunjukkan bahwa planet tersebut benar-benar pernah memiliki satelit.

Namun, menurutnya, Venus kemungkinan mengalami berbagai tabrakan besar ketika Tata Surya masih berusia sangat muda. Pada periode tersebut, ruang di sekitar Matahari dipenuhi objek-objek berbatu berukuran besar yang bergerak dan saling bertumbukan.

Posisi Venus yang lebih dekat dengan Matahari membuat planet tersebut diperkirakan menerima lebih banyak hantaman dibandingkan Bumi. Tabrakan dengan protoplanet bahkan diyakini menjadi bagian dari proses pembentukan Bulan Bumi.

Penelitian terhadap Venus juga masih akan berlanjut melalui misi luar angkasa NASA. Dua misi, DAVINCI+ dan VERITAS, direncanakan diluncurkan pada akhir 2020-an atau sekitar 2030.

Kedua misi tersebut diharapkan memberikan informasi baru mengenai atmosfer dan kondisi geologis Venus. Data yang diperoleh nantinya dapat membantu ilmuwan memahami lebih jauh bagaimana Venus berkembang hingga menjadi salah satu planet paling ekstrem di Tata Surya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....