AI Sistem Deteksi Dini, Bukan Pengganti Psikolog bagi Anak Berkebutuhan Khusus

  • 30 Jul 2026 09:42 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) di bidang pendidikan dan kesehatan mental terus berkembang, termasuk dalam mendukung layanan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Teknologi ini dinilai mampu membantu proses deteksi dini terhadap berbagai indikasi gangguan belajar maupun kesehatan mental, meski tetap tidak dapat menggantikan peran tenaga profesional.

Dosen dan Mahasiswi Doktoral Universitas Ahmad Dahlan, Erlin Elisa, mengatakan AI memiliki kemampuan menganalisis data dalam jumlah besar untuk menemukan pola-pola tertentu yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan. Namun, hasil analisis tersebut hanya berfungsi sebagai pendukung dan bukan sebagai dasar diagnosis akhir.

"AI ini lebih berfungsi sebagai sistem pendukung keputusan atau yang kita kenal dengan early warning system atau early detection, deteksi awal. Misalnya AI bisa menganalisis perubahan pola komunikasi seseorang, ekspresi emosi atau perilaku digital yang mungkin mengidentifikasi stres maupun kecemasan yang berlebihan," ujarnya.

Menurut Erlin, hasil analisis AI nantinya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi guru, psikolog, maupun tenaga kesehatan untuk memberikan pendampingan yang lebih tepat sesuai kondisi anak. Dengan demikian, proses intervensi dapat dilakukan lebih cepat apabila ditemukan gejala tertentu.

Ia mencontohkan, penelitian yang saat ini dikembangkannya memanfaatkan AI untuk menganalisis jejak digital seseorang. Sistem mempelajari unggahan media sosial, pilihan kata, hingga ekspresi yang digunakan untuk mendeteksi kemungkinan adanya tekanan psikologis.

"AI mempelajari dari status, emotikon yang digunakan, maupun cerita pengalaman yang diposting seseorang. Dari situ AI dapat menganalisis apakah seseorang mengalami kecemasan, depresi, atau stres. Namun itu hanya deteksi awal, bukan mendiagnosis," kata Erlin.

Meski memiliki kemampuan analisis yang semakin baik, Erlin menegaskan tingkat akurasi AI tetap bergantung pada kualitas data yang digunakan. Dalam berbagai penelitian, model AI bahkan mampu menghasilkan tingkat akurasi tinggi, tetapi hasil tersebut tetap harus melalui proses validasi oleh psikolog atau tenaga ahli.

Menurutnya, setiap penelitian mengenai kesehatan mental maupun anak berkebutuhan khusus wajib melibatkan pakar sebagai validator agar hasil prediksi AI benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. Kolaborasi antara bidang teknologi informasi dan ilmu kesehatan menjadi syarat utama agar sistem yang dikembangkan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi.

Erlin berharap masyarakat memahami bahwa AI bukanlah pengganti psikolog, psikiater, maupun guru. Kehadiran teknologi justru dimaksudkan untuk mempercepat proses identifikasi awal sehingga anak berkebutuhan khusus dapat memperoleh layanan pendidikan maupun pendampingan kesehatan mental secara lebih cepat, tepat, dan berbasis data.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....