Mengenal Istilah Biaya yang Masih Harus Dibayar atau Accrued Expense

  • 29 Jun 2026 09:36 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - adalah biaya yang telah terjadi dan manfaatnya sudah dinikmati oleh perusahaan dalam suatu periode akuntansi, tetapi perusahaan belum membayarnya dan belum menerima faktur/tagihan resmi dari pihak penyedia.

Dalam akuntansi, konsep ini lahir karena adanya Prinsip Akrual (Accrual Basis). Prinsip ini menyatakan bahwa pendapatan dan beban harus dicatat pada periode terjadinya, bukan pada saat uang tunai diterima atau dikeluarkan.

Di dalam Neraca (Balance Sheet), Accrued Expense dikategorikan sebagai Kewajiban Lancar (Current Liabilities) karena merupakan utang jangka pendek yang biasanya harus dilunasi dalam waktu dekat (beberapa hari hingga beberapa bulan).

Agar lebih mudah dibayangkan, berikut adalah beberapa contoh operasional yang paling sering memicu munculnya Accrued Expense:

Gaji Karyawan (Accrued Salaries):

Karyawan bekerja dari tanggal 1 hingga 30 Juni. Namun, kebijakan perusahaan baru mentransfer gaji pada tanggal 5 Juli. Pada laporan keuangan per 30 Juni, perusahaan wajib mencatat "Beban Gaji" pada bulan Juni dan melawannya dengan "Utang Gaji" (Accrued Expense), karena karyawan sudah menuntaskan hak mereka di bulan Juni.

Tagihan Utilitas (Listrik, Air, Internet):

Anda menggunakan AC dan internet kantor sepanjang bulan Desember 2026. Perusahaan penyedia (PLN/Provider) baru akan mengirimkan tagihan dan memotong saldo Anda pada pertengahan Januari 2027. Biaya pemakaian Desember wajib diakrualkan di laporan akhir tahun Desember.

Bunga Pinjaman Bank (Accrued Interest):

Perusahaan memiliki pinjaman bank yang bunganya jatuh tempo setiap tanggal 15. Ketika menyusun laporan bulanan per tanggal 30, ada waktu 15 hari bunga berjalan yang sudah berjalan dan menjadi beban perusahaan, meskipun tanggal bayarnya masih nanti.

Mengapa kita harus repot-repot mencatat biaya yang dokumennya saja belum kita pegang?

Menghadirkan Laporan Keuangan yang Akurat: Jika Anda tidak mencatat biaya gaji atau listrik yang sudah berjalan, keuntungan (profit) bisnis Anda pada bulan tersebut akan terlihat jauh lebih besar dari yang sebenarnya (overstated).

Kepatuhan Terhadap Standar Akuntansi: Baik PSAK di Indonesia maupun IFRS secara global mewajibkan penggunaan metode akrual demi transparansi performa perusahaan.

Perencanaan Kas yang Lebih Baik: Manajemen tahu persis berapa kewajiban riil yang harus segera dibayarkan di awal bulan berikutnya, sehingga tidak kaget saat tagihan-tagihan tersebut datang bersamaan.

Pada akhir periode akuntansi (biasanya akhir bulan atau akhir tahun), akuntan akan membuat Jurnal Penyesuaian (Adjusting Journal Entries) untuk merekam beban ini.

Format Jurnal Penyesuaian:

  • (Debet) Beban [Nama Beban]
  • (Kredit) Biaya yang Masih Harus Dibayar / Utang Beban

Contoh: Pada tanggal 31 Desember, diperkirakan tagihan listrik yang telah digunakan sebesar Rp2.000.000 namun tagihan belum datang. Jurnalnya:

  • (Debet) Beban Utilitas: Rp2.000.000
  • (Kredit) Biaya Utilitas yang Masih Harus Dibayar: Rp2.000.000

Ketika tagihan datang dan dibayar di bulan Januari, akun Biaya Utilitas yang Masih Harus Dibayar di posisi Kredit akan dihapus dengan memindahkannya ke posisi Debet, dan Kreditnya adalah Kas/Bank.

Biaya yang Masih Harus Dibayar (Accrued Expense) adalah pengingat bahwa dalam bisnis, kewajiban tidak hanya dihitung dari kertas tagihan yang menumpuk di meja kerja, melainkan dari setiap aktivitas operasional yang sudah kita manfaatkan. Manajemen yang jeli terhadap pos akrual ini mencerminkan pengelolaan bisnis yang matang, transparan, dan siap menghadapi kewajiban finansial jangka pendek dengan pondasi kas yang kuat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....