Terumbu Karang Blue Hole Langka Ditemukan di Laut China Selatan
- 27 Jun 2026 08:30 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Dilansir dari Asia News Network Penemuan sebuah blue hole atau lubang biru terumbu karang yang langka di perairan sekitar Pulau Huangyan, Laut China Selatan, menjadi perhatian para ilmuwan dunia. Berdasarkan laporan survei yang dirilis pada 25 Juni 2026, formasi geologi bawah laut tersebut tidak hanya tergolong fenomena alam yang sangat jarang ditemukan, tetapi juga menjadi habitat penting bagi ribuan spesies laut yang hidup di kawasan tersebut.
Blue hole ini pertama kali ditemukan oleh tim observasi ilmiah pada Agustus 2025 di bagian tengah laguna Pulau Huangyan. Dengan memanfaatkan teknologi environmental DNA (eDNA), para peneliti berhasil mengidentifikasi lebih dari 2.700 spesies organisme laut yang hidup di dalam dan di sekitar lubang biru tersebut. Metode eDNA memungkinkan ilmuwan mendeteksi keberadaan makhluk hidup melalui jejak materi genetik yang tertinggal di air laut, sehingga menghasilkan data keanekaragaman hayati yang lebih lengkap dibandingkan metode survei konvensional.
Menurut hasil penelitian, blue hole tersebut terbentuk dari terumbu karang, jenis yang sangat langka di dunia. Studi geologi awal menunjukkan lubang ini telah terbentuk setidaknya sejak 3.200 tahun lalu di kawasan terumbu karang padat dalam laguna. Bentuknya menyerupai corong dengan diameter permukaan sekitar 56,3 meter, kedalaman mencapai 16,6 meter, dan luas sekitar 1.491,7 meter persegi.
Ekosistem di dalam blue hole masih terjaga dengan baik. Beragam komunitas biota laut hidup di dalamnya, mulai dari berbagai jenis ikan karang, kima raksasa, spons laut, hingga anemon. Para peneliti juga menemukan keberadaan penyu hijau yang merupakan satwa dilindungi. Selama dua tahun terakhir, survei di sekitar kawasan itu mencatat sedikitnya 165 spesies karang keras dari 14 famili dan 184 spesies ikan dari 27 famili, menunjukkan tingginya nilai ekologis kawasan tersebut.
Selain menjadi rumah bagi ribuan spesies, blue hole ini juga memiliki nilai ilmiah yang sangat penting. Lapisan sedimen dan struktur geologinya diyakini dapat menyimpan rekaman perubahan lingkungan sejak zaman Holosen, termasuk perubahan muka air laut, dinamika iklim global, hingga evolusi ekosistem Laut China Selatan selama ribuan tahun. Informasi tersebut dapat membantu ilmuwan memahami dampak perubahan iklim terhadap ekosistem laut tropis.
Kementerian Ekologi dan Lingkungan China menyatakan hasil survei ini memperlihatkan pentingnya upaya konservasi di kawasan tersebut, terlebih setelah pembentukan Cagar Alam Nasional Pulau Huangyan pada September 2025. Pemerintah berencana melanjutkan penelitian yang lebih mendalam untuk memahami proses pembentukan blue hole, perkembangan ekosistemnya, serta memperkuat langkah-langkah perlindungan keanekaragaman hayati di wilayah Laut China Selatan.
Penemuan blue hole terumbu karang ini menjadi salah satu temuan kelautan paling menarik dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, pencemaran laut, dan kerusakan terumbu karang di berbagai belahan dunia, keberadaan ekosistem yang masih alami seperti ini menjadi laboratorium alam yang sangat berharga. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan sekaligus mendukung upaya konservasi ekosistem laut secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....