FOMO Bikin Boros: Analisis Ekonomi Manajerial terhadap Tren Live Shopping TikTok
- 31 Mei 2026 13:29 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Pernah membuka TikTok hanya untuk scroll sebentar, tetapi berakhir checkout barang yang sebenarnya tidak masuk daftar kebutuhan? Awalnya hanya ingin melihat live penjual, lalu muncul kalimat yang sangat familiar: "Stok tinggal sedikit!", "Diskon tinggal 5 menit!", atau "Checkout sekarang dapat bonus!". Tanpa sadar, jari lebih cepat menekan tombol beli dibanding logika untuk berpikir.
Fenomena ini bukan lagi hal asing. Live Shopping TikTok telah mengubah cara masyarakat berbelanja. Aktivitas yang dulu membutuhkan proses mencari produk, membandingkan harga, hingga mempertimbangkan kebutuhan, kini berubah menjadi pengalaman yang cepat, interaktif, bahkan emosional. Di balik kemudahan tersebut, terdapat satu faktor psikologis yang sangat kuat: FOMO (Fear of Missing Out).
FOMO merupakan kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal tren, kesempatan, atau pengalaman yang sedang dinikmati orang lain. Dalam konteks Live Shopping TikTok, FOMO muncul ketika konsumen merasa bahwa jika tidak membeli saat itu juga, mereka akan kehilangan kesempatan mendapatkan harga murah, produk viral, atau keuntungan tertentu.
Menariknya, fenomena ini tidak hanya dapat dijelaskan melalui psikologi konsumen, tetapi juga melalui perspektif ekonomi manajerial. Ekonomi manajerial membantu menjelaskan bagaimana perusahaan menggunakan strategi ekonomi dan perilaku konsumen untuk meningkatkan penjualan dan keuntungan.
Dalam teori ekonomi klasik, konsumen diasumsikan sebagai individu yang rasional, yaitu membeli produk berdasarkan kebutuhan dan manfaat yang diperoleh. Namun dalam praktiknya, keputusan pembelian sering dipengaruhi emosi dan lingkungan sosial.
Pertama, strategi kelangkaan (scarcity effect). Ketika penjual mengatakan "stok tersisa 10" atau "promo tinggal beberapa menit lagi", konsumen merasa ada ancaman kehilangan kesempatan. Perasaan takut kehilangan inilah yang mendorong konsumen untuk mengambil keputusan lebih cepat.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pesan kelangkaan (scarcity message) menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perilaku pembelian impulsif pada platform live shopping. Konsumen cenderung membeli secara spontan ketika merasa kesempatan tersebut bersifat terbatas.
Kedua, strategi bukti sosial (social proof). Saat live berlangsung, sering muncul notifikasi seperti "Andi baru saja membeli produk ini" atau kolom komentar dipenuhi kalimat "racun banget", "bagus parah", dan "udah checkout". Situasi ini menciptakan persepsi bahwa produk tersebut diminati banyak orang.
Fenomena ini berkaitan dengan perilaku herd behavior atau perilaku mengikuti kelompok. Ketika banyak orang mengambil keputusan tertentu, individu lain cenderung ikut mengambil keputusan yang sama karena menganggap pilihan mayoritas lebih benar.
Ketiga, strategi harga psikologis. Harga Rp99.000 sering kali terasa jauh lebih murah dibanding Rp100.000 meskipun selisihnya hanya Rp1.000. Ditambah lagi adanya voucher, cashback, gratis ongkir, dan potongan harga tambahan yang membuat konsumen merasa sedang "berhemat", padahal total pengeluaran bisa jadi lebih besar.
Dari perspektif ekonomi manajerial, strategi tersebut merupakan bentuk pengambilan keputusan perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan. Pelaku bisnis mempelajari perilaku konsumen, mengidentifikasi pola pasar, kemudian merancang strategi yang meningkatkan kemungkinan pembelian.
Hal ini juga didukung berbagai penelitian terbaru. Studi tahun 2024 menemukan bahwa FOMO dan fitur live streaming shopping memiliki pengaruh signifikan terhadap pembelian impulsif pada pengguna TikTok Shop. Interaksi langsung antara penjual dan konsumen menciptakan dorongan emosional yang membuat konsumen lebih mudah melakukan pembelian spontan.
Penelitian lain di Indonesia menunjukkan bahwa FOMO, live streaming, dan electronic word of mouth (ulasan dan komentar pengguna) secara signifikan memengaruhi keputusan pembelian pada TikTok Shop. Bahkan pengaruh ulasan pengguna ditemukan menjadi faktor yang sangat besar dalam membangun kepercayaan konsumen.
Selain itu, penelitian terbaru mengenai keputusan pembelian produk di TikTok Shop juga menemukan bahwa live shopping, pemasaran influencer, dan FOMO secara bersamaan meningkatkan keputusan pembelian konsumen. Di satu sisi, Live Shopping memberikan manfaat ekonomi yang besar. Banyak pelaku UMKM memperoleh peluang pasar yang lebih luas, meningkatkan penjualan, dan mempercepat pertumbuhan bisnis. Tren social commerce juga terus berkembang secara global.
Namun di sisi lain, terdapat konsekuensi yang perlu diperhatikan. Konsumsi impulsif meningkat. Banyak orang membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut tertinggal tren. Ironisnya, banyak orang merasa senang saat berhasil membeli barang diskon, tetapi beberapa hari kemudian muncul pertanyaan sederhana: "Sebenarnya aku butuh ini atau cuma ikut tren?"
Di era digital saat ini, kemampuan mengendalikan diri mungkin menjadi keterampilan yang sama pentingnya dengan kemampuan menghasilkan uang. Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana memperoleh pendapatan, tetapi juga bagaimana mengelola keputusan konsumsi secara bijak, karena pada akhirnya, tidak semua yang muncul di layar perlu masuk ke keranjang belanja.
Sumber: Asep Saepuliqbal; https://www.kompasiana.com/asep50468/6a0a9d44c925c440b3485153/fenomena-fomo-bikin-boros-analisis-ekonomi-manajerial-terhadap-tren-live-shopping-tiktok?page=all
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....