Memulai Budaya Literasi dari Lingkungan Budaya Terdekat
- 29 Mei 2026 09:14 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Literasi adalah langkah awal dalam memperkenalkan pendidikan kepada anak usia dini. Jika diamati dari data UNESCO menunjukkan bahwa tingkat literasi baca masyarakat Indonesia tergolong rendah, yaitu 0,001% dan menempati posisi ke 60 dari 61 negara. Berdasarkan pengamatan dari data BPS, tingkat ketertarikan baca masyarakat Indonesia, yaitu 17,66%. Artinya, dari seribu anak Indonesia hanya satu yang memiliki ketertarikan terhadap membaca (Devianty & Sari, 2022).
Budaya membaca pada anak tidak muncul secara tiba-tiba. Kebiasaan tersebut berkembang dari lingkungan sekitar, khususnya keluarga, melalui keteladanan, pembiasaan, dan suasana rumah yang mendukung. Karena itu, upaya menumbuhkan literasi anak sebaiknya dimulai dari rumah sebelum diperkuat oleh sekolah (Wati et al., 2024).
Masalah literasi masih menjadi perhatian serius di Indonesia. Hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa Indonesia mendapatkan skor literasi membaca sebesar 359 poin, yang mengindikasikan bahwa kemampuan membaca siswa masih perlu diperbaiki. Fakta ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca perlu dikembangkan sejak dini, khususnya dalam keluarga sebagai lingkungan pertama anak belajar (PISA, 2022).
Peran keluarga sangat penting dalam membentuk kebiasaan membaca pada anak. Di rumah, anak memperoleh pelajaran tidak hanya dari nasihat, tetapi juga dari contoh konkret yang mereka amati setiap hari. Jika orang tua gemar membaca, menyediakan bacaan, serta berdiskusi secara positif mengenai pengetahuan, anak akan memahami bahwa membaca adalah aktivitas yang berharga dan menyenangkan.
Banyak orang mengira bahwa literasi di rumah harus diawali dengan peralatan yang mahal. Sebenarnya, lingkungan literasi bisa diciptakan dengan cara yang mudah, seperti menyiapkan rak buku kecil, pojok baca, atau beberapa bacaan anak yang sesuai dengan usianya. Hal yang lebih utama adalah ketekunan keluarga dalam menyediakan waktu untuk membaca bersama.
Salah satu kegiatan yang efektif adalah membaca nyaring atau read aloud. Dalam kegiatan ini, orang tua membacakan cerita dengan intonasi yang menarik, kemudian mengajak anak berdiskusi mengenai isi cerita tersebut. Metode ini mendukung anak dalam memperluas kosakata, melatih imajinasi, dan memahami pesan moral dari cerita tersebut. Selain itu, membaca bersama juga memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak.
Keluarga juga harus membiasakan anak untuk membaca sendiri dalam waktu singkat namun secara teratur. Dalam jangka panjang, kebiasaan sederhana seperti ini lebih efektif daripada sebuah paksaan yang membuat anak merasa bahwa membaca adalah suatu beban.
Kemendikdasmen juga menegaskan pentingnya peningkatan literasi dan numerasi di sekolah karena pelajar Indonesia masih membutuhkan dukungan yang berkelanjutan. Akan tetapi, peningkatan dari sekolah akan lebih efektif jika disertai dengan kebiasaan literasi di rumah. Dengan kata lain, keluarga dan sekolah perlu saling mendukung agar anak tidak hanya membaca ketika ada tugas, melainkan menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupannya (Ma'rup, 2022).
Menurut pendapat saya, penyebab utama rendahnya minat baca anak bukan hanya disebabkan oleh keterbatasan buku, tetapi karena budaya membaca belum menjadi tradisi dalam keluarga. Banyak rumah lebih sering dipenuhi tontonan dibanding buku. Akibatnya, anak menjadi terbiasa menerima informasi dengan cepat dan secara pasif, bukan melalui proses berpikir yang lebih mendalam.
Oleh karena itu, keluarga harus memulai dengan langkah yang praktis. Contohnya, menentukan waktu untuk membaca bersama, membantu anak memilih buku sesuai dengan minat, atau menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman sehari-hari. Jika anak senang dengan hewan, orang tua dapat memilih buku bergambar mengenai binatang. Apabila anak suka mendengarkan kisah petualangan, buku dengan cerita yang mudah dan karakter yang menarik dapat meningkatkan ketertarikan mereka. Metode semacam ini membuat membaca menjadi lebih akrab dengan dunia anak.
Saya pun meyakini bahwa budaya literasi akan lebih kokoh jika orang tua memberikan contoh yang konsisten. Anak yang menyaksikan orang tuanya membaca koran, buku, atau sumber bacaan lainnya akan menganggap membaca sebagai suatu kebiasaan yang biasa. Contoh ini jauh lebih kuat daripada sekadar instruksi. Dalam mendidik anak, contoh konkret sering kali lebih efektif dibandingkan penjelasan yang bertele-tele.
Selain itu, rumah yang berbudaya literasi tidak perlu dipenuhi banyak buku, tetapi harus kaya dengan dialog yang bermakna. Orang tua bisa bertanya, "Cerita apa yang paling kamu sukai?" atau "Apa yang kamu pelajari dari buku tadi?" Pertanyaan yang mudah seperti ini membantu anak untuk berpikir, menyusun pandangan, dan memahami materi bacaan. Dari situlah kemampuan literasi berkembang secara bertahap tetapi kuat.
Kebiasaan membaca anak sebaiknya diawali dari lingkungan keluarga terdekat karena keluarga adalah adalah tempat pertama anak belajar dan membentuk kebiasaan. Rumah yang memberikan contoh positif, menyediakan bahan bacaan, dan merangsang diskusi literasi akan mendukung anak berkembang menjadi pembaca yang aktif dan kritis.
Pada akhirnya, meningkatkan literasi bukan hanya tanggung jawab sekolah. Keluarga juga berperan penting dalam mempersiapkan anak untuk mencintai membaca sejak dini. Jika kebiasaan membaca dimulai dari rumah, maka anak akan memiliki pondasi yang kokoh untuk menghadapi tantangan belajar di sekolah maupun kehidupan di masa depan.
Sumber : Parida Yasmin; https://www.kompasiana.com/2025_paridayasmin1763/6a11f582ed641529c86656e6/memulai-budaya-literasi-dari-lingkungan-keluarga-terdekat?page=all#section1
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....