ASEAN Hadapi Risiko Terpinggirkan, Kao Dorong Penguatan Peran Regional

  • 15 Sep 2026 09:07 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Dilansir dari The Straits Times Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn memperingatkan bahwa ASEAN berisiko semakin terpinggirkan di tengah berkembangnya berbagai kelompok kerja sama yang lebih kecil di kawasan Indo-Pasifik. Dalam pidatonya pada 14 September 2026, Kao menilai negara-negara kini semakin banyak mengandalkan kemitraan terbatas untuk menghadapi persoalan keamanan, ekonomi, teknologi, dan tantangan lintas negara.

Peringatan tersebut disampaikan Kao saat membuka ASEAN Think Tanks Summit ketiga di Jakarta yang diikuti lebih dari 150 diplomat, pembuat kebijakan, akademisi, serta peneliti lembaga pemikir. Forum dua hari itu diselenggarakan Singapore Institute of International Affairs atas nama ASEAN Institutes of Strategic and International Studies, sebuah jaringan lembaga kajian strategis dari berbagai negara Asia Tenggara.

Menurut Kao, semakin kompleksnya arsitektur keamanan regional harus diantisipasi agar tidak membuat kerja sama di kawasan terfragmentasi. ASEAN perlu memastikan berbagai institusi yang dibangun selama beberapa dekade tetap relevan, memiliki daya panggil, dan mampu mempertemukan negara-negara dengan kepentingan berbeda di tengah meningkatnya persaingan kekuatan besar.

Perkembangan berbagai kemitraan baru menjadi salah satu tantangan tersebut. Kerja sama seperti kemitraan trilateral Amerika Serikat, Jepang, dan Filipina serta meningkatnya koordinasi Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Filipina menunjukkan kecenderungan negara-negara membentuk mekanisme yang lebih kecil untuk menangani persoalan tertentu. Meski tidak selalu dimaksudkan menggantikan ASEAN, proliferasi kelompok semacam ini dapat memengaruhi pengaruh forum yang dipimpin ASEAN.

Kao menekankan ASEAN perlu lebih strategis memanfaatkan mekanisme yang telah dimiliki, termasuk East Asia Summit, ASEAN Regional Forum, dan ASEAN Defence Ministers’ Meeting-Plus. Menurutnya, dialog dan diplomasi harus tetap menjadi instrumen utama ASEAN, terutama ketika persaingan antara negara-negara besar semakin meningkat. Namun, posisi sentral ASEAN tidak dapat hanya mengandalkan sejarah dan warisan kelembagaan, melainkan harus terus dibuktikan melalui kemampuan menghasilkan kerja sama nyata.

Selain isu keamanan, ASEAN juga menghadapi tantangan ketahanan ekonomi, perubahan teknologi, serta ancaman lintas negara. Kao menilai ketahanan energi, pangan, dan ekonomi kini saling berkaitan sehingga gangguan di satu sektor dapat dengan cepat berdampak pada sektor lainnya. ASEAN juga perlu memperkuat diversifikasi, kapasitas regional, serta kemampuan menyerap dan memulihkan diri dari berbagai guncangan tanpa meninggalkan keterbukaan dan integrasi ekonomi yang selama ini mendukung pertumbuhan kawasan.

Kekhawatiran tersebut menjadi semakin penting menjelang 2027 ketika Singapura akan mengambil alih kepemimpinan ASEAN dari Filipina sekaligus bertepatan dengan peringatan 60 tahun berdirinya organisasi tersebut. Momentum itu dinilai dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kesiapan ASEAN menghadapi era baru, termasuk perkembangan kecerdasan buatan, serangan siber, penipuan daring, kejahatan lintas negara, ketegangan maritim, hingga bencana akibat perubahan iklim. Kao menegaskan bahwa relevansi ASEAN harus terus diperoleh melalui kemampuan beradaptasi, menyatukan negara-negara, mengelola perbedaan, dan mendorong aksi kolektif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....