Kabut Asap Memburuk, Sarawak Tutup 591 Sekolah

  • 22 Agt 2026 09:18 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Pemerintah Sarawak, Malaysia, mengambil langkah pencegahan dengan menghentikan sementara kegiatan belajar di 591 sekolah yang tersebar di 10 distrik. Kebijakan ini diberlakukan selama dua hari karena kualitas udara di sejumlah wilayah mengalami penurunan akibat kabut asap.

Dilansir dari CNA, penutupan mulai berlaku Kamis, 20 Agustus 2026. Sekolah yang terdampak berada di Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong.

Departemen Pendidikan Sarawak menyebut kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko kesehatan yang mungkin dialami siswa akibat menghirup udara dengan tingkat polusi tinggi.

Secara keseluruhan, sekitar 197.323 siswa harus mengikuti kebijakan tersebut. Jumlah itu terdiri dari 107.590 siswa sekolah dasar dan 89.733 siswa sekolah menengah.

Selama kegiatan tatap muka dihentikan, sekolah akan menerapkan pembelajaran dari rumah. Pemerintah Sarawak akan menyampaikan informasi berikutnya mengenai kemungkinan perpanjangan masa penutupan maupun jadwal pembukaan sekolah melalui saluran resmi.

Penutupan sekolah akibat kabut asap ini bukan yang pertama terjadi di Sarawak sepanjang Agustus. Sebelumnya, sekolah di wilayah Serian juga sempat ditutup selama tiga hari setelah indeks pencemaran udara atau API mencapai lebih dari 200.

Berdasarkan kategori API Malaysia, kualitas udara dengan angka 101 hingga 200 tergolong tidak sehat. Sementara itu, angka 201 sampai 300 dikategorikan sangat tidak sehat dan di atas 300 masuk kategori berbahaya.

Kondisi pada Kamis menunjukkan API Serian berada di angka 193. Kuching mencatat 190 dan Samarahan 173. Sehari kemudian, kualitas udara di Serian semakin memburuk dengan API mencapai 239 atau masuk kategori sangat tidak sehat.

Pihak lingkungan hidup Sarawak memperkirakan kabut masih dapat bertahan hingga akhir pekan jika aktivitas pembakaran biomassa terus berlangsung.

Dampak kabut asap juga mulai terasa hingga Singapura. Kondisi cuaca kering diperkirakan masih bertahan di kawasan tersebut dalam beberapa hari mendatang.

Kondisi kabut di Sarawak diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Data ASEAN Specialised Meteorological Centre mencatat 7.286 titik panas di Kalimantan selama 1 hingga 19 Agustus, jauh lebih banyak dibandingkan 148 titik panas yang terpantau di Sarawak pada periode yang sama.

Otoritas lingkungan Sarawak mengingatkan, cuaca kering berkepanjangan dapat meningkatkan risiko kebakaran sekaligus memperparah kabut lintas batas. Asap dari wilayah Kalimantan Barat bahkan dilaporkan bergerak menuju utara dan memasuki bagian barat Sarawak.

Sementara di Indonesia, kebakaran lahan juga menyebabkan kabut tebal di sejumlah wilayah, termasuk Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Pemerintah Indonesia telah menyiapkan operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu upaya membantu mengendalikan kebakaran dan mengurangi potensi munculnya titik api baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....