Topan Dolphin Sebabkan Banjir di Beijing, Ratusan Layanan Terganggu
- 14 Agt 2026 06:11 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Hujan dengan intensitas tinggi yang dipicu Topan Dolphin terus melanda sejumlah wilayah di China. Dampaknya, ibu kota Beijing mengalami banjir di berbagai titik, mengganggu lalu lintas, layanan transportasi umum, hingga aktivitas pariwisata.
Badai yang disebut sebagai topan terkuat di China sepanjang tahun ini sebelumnya telah memecahkan rekor curah hujan di sejumlah provinsi bagian timur dan tengah. Meski kekuatannya mulai berkurang setelah mencapai daratan, sisa sistem badai masih membawa kelembapan dalam jumlah besar ke wilayah pedalaman sehingga memicu hujan deras.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Beijing menetapkan status peringatan hujan lebat tingkat kedua. Otoritas juga menghentikan operasional sekitar 250 rute bus, menutup 150 destinasi wisata, serta memberlakukan pembatasan kecepatan pada 10 jalur kereta bawah tanah.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan beberapa ruas jalan utama di Beijing berubah menjadi genangan air yang menyerupai sungai. Arus kendaraan pun tersendat karena banyak mobil dan bus terjebak di tengah banjir.
Wilayah Changping menjadi daerah dengan curah hujan tertinggi di Beijing. Dalam satu jam setelah pukul 09.00 waktu setempat, kawasan tersebut diguyur hujan hingga mencapai 90,7 milimeter.
Topan Dolphin sendiri mendarat di Provinsi Zhejiang pada Minggu lalu setelah menempuh perjalanan sekitar 6.000 kilometer. Walaupun intensitas anginnya telah menurun, sisa badai masih berpotensi memicu banjir akibat membawa uap air tropis ke berbagai wilayah di China.
Di Kota Yuhuan, Zhejiang, hujan hampir 200 milimeter menyebabkan jalan-jalan tergenang. Rekaman yang telah diverifikasi Reuters menunjukkan banyak kendaraan memilih berhenti di atas jembatan yang masih aman dari luapan air.
Media pemerintah China juga melaporkan sejumlah wilayah di Provinsi Zhejiang, Henan, dan Hubei mencatat rekor baru curah hujan untuk bulan Agustus.
Kota Wugang membukukan curah hujan harian sebesar 209,5 milimeter, sementara Xiangyang mencatat 169,1 milimeter, keduanya menjadi angka tertinggi yang pernah tercatat pada bulan Agustus di wilayah tersebut.
Pemerintah memperkirakan hujan lebat masih akan berlangsung dalam beberapa hari mendatang. Untuk meningkatkan kemampuan menghadapi cuaca ekstrem, badan meteorologi China mulai mengembangkan sistem prakiraan berbasis kecerdasan buatan (AI) sebagai pelengkap metode prediksi konvensional.
Fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi diyakini berkaitan dengan perubahan iklim global. Setiap tahun, hujan lebat menyebabkan kerugian ekonomi besar di China akibat terganggunya aktivitas industri, transportasi, serta rusaknya lahan pertanian karena banjir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....