El Nino Menguat, Penyusutan Hutan Perburuk Risiko Bencana di Brasil

  • 14 Agt 2026 06:10 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Luas kawasan alami di Brasil terus mengalami penurunan dalam empat dekade terakhir. Berdasarkan penelitian terbaru yang dipublikasikan pada Rabu (12/8), berkurangnya tutupan vegetasi asli membuat negara tersebut semakin rentan menghadapi dampak cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino.

Saat ini, berbagai wilayah di Brasil tengah bersiap menghadapi ancaman kekeringan, banjir, hingga kebakaran hutan. Fenomena El Nino yang mulai teridentifikasi sejak Juni diperkirakan akan mencapai puncaknya menjelang akhir tahun.

Dilansir dari AFP, laporan tahunan yang dirilis jaringan pemantau lingkungan MapBiomas menunjukkan tutupan vegetasi alami Brasil kini hanya mencakup sekitar 65 persen wilayah negara itu. Angka tersebut turun cukup tajam dibandingkan sekitar 79 persen pada pertengahan 1980-an.

Penurunan terbesar terjadi di dua kawasan penting, yakni Hutan Amazon dan sabana Cerrado, yang selama ini dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia.

Sebagian besar lahan yang kehilangan vegetasi alami telah beralih fungsi menjadi kawasan pertanian maupun peternakan. Saat ini, penggunaan lahan untuk kedua sektor tersebut mencapai sekitar 32 persen wilayah Brasil, meningkat signifikan dibandingkan sekitar 18 persen pada 1985.

Hasil analisis MapBiomas juga menunjukkan daerah yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian lebih mudah terdampak cuaca ekstrem ketika El Nino terjadi.

Koordinator Umum MapBiomas, Tasso Azevedo, menjelaskan bahwa selama El Nino 2023–2024, wilayah Amazon yang telah mengalami deforestasi mencatat penurunan curah hujan yang lebih besar dibandingkan kawasan hutan yang masih utuh.

Sebaliknya, di wilayah padang rumput bagian selatan yang telah dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, curah hujan justru meningkat dibandingkan daerah yang masih memiliki vegetasi alami. Kondisi serupa turut berkontribusi terhadap banjir besar yang melanda negara bagian Rio Grande do Sul pada 2024 dan menewaskan sekitar 200 orang.

Menurut Azevedo, perubahan tata guna lahan memang tidak menjadi penyebab munculnya El Nino. Namun, kondisi tersebut dapat memperbesar dampak yang ditimbulkan ketika fenomena iklim itu terjadi.

Ia menduga hilangnya tutupan hutan di Amazon mengurangi proses penguapan air dan kelembapan udara. Akibatnya, suhu menjadi lebih tinggi dan curah hujan menurun, sehingga efek El Nino terasa lebih kuat.

Sementara itu, pemerintah Brasil sebelumnya telah memperingatkan kemungkinan terjadinya El Nino berkekuatan sangat besar pada tahun ini. Suhu permukaan Samudra Pasifik diperkirakan meningkat lebih dari dua derajat Celsius di atas rata-rata normal.

Di sisi lain, Konfederasi Pertanian dan Peternakan Brasil (CNA) mengingatkan bahwa fenomena yang disebut sebagai Super El Nino berpotensi mengganggu produksi sejumlah komoditas unggulan negara tersebut, termasuk kopi, kedelai, dan tebu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....