Topan Dolphin Melemah, Transportasi China Timur Masih Terganggu

  • 11 Agt 2026 11:43 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Meskipun kekuatan Topan Dolphin mulai berkurang, dampaknya masih dirasakan di sejumlah wilayah China timur. Hujan lebat yang dibawa badai tersebut mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk memicu pembatalan ratusan penerbangan dan gangguan layanan transportasi umum.

Dilansir dari AFP, pada Senin, 10 Agustus 2026, Pusat Meteorologi Nasional China (NMC) menurunkan status peringatan Topan Dolphin ke level paling rendah. Namun, lembaga tersebut tetap mengingatkan bahwa curah hujan tinggi diperkirakan masih akan melanda sejumlah wilayah di China bagian timur dan tengah hingga beberapa waktu ke depan.

Topan Dolphin sebelumnya dua kali menghantam pesisir Provinsi Zhejiang pada Minggu. Meski intensitasnya terus menurun, ancaman banjir belum sepenuhnya berakhir.

Media pemerintah CCTV melaporkan bahwa otoritas setempat masih memberlakukan peringatan banjir bandang tingkat tertinggi di sejumlah daerah di wilayah timur dan selatan Zhejiang sebagai langkah antisipasi.

Gangguan paling terasa terjadi di Shanghai, di mana dua bandara utama terpaksa membatalkan sedikitnya 943 jadwal penerbangan. Selain itu, sejumlah layanan transportasi umum, termasuk beberapa jalur kereta lokal, masih dihentikan sementara karena kondisi cuaca.

Sementara itu, Bandara Internasional Ningbo mulai membuka kembali operasionalnya pada Senin siang. Kendati demikian, pengelola bandara mengingatkan bahwa penumpang masih berpotensi mengalami penundaan maupun pembatalan penerbangan karena sisa dampak badai belum sepenuhnya hilang.

Di Hangzhou, layanan kereta bawah tanah yang sempat dihentikan sehari sebelumnya kini kembali beroperasi secara bertahap setelah kondisi dinilai lebih aman.

Wilayah utara China juga bersiap menghadapi cuaca ekstrem. Sedikitnya lima distrik di Beijing menetapkan status peringatan merah akibat hujan deras, disertai potensi banjir dan tanah longsor di sejumlah kawasan.

Saat Topan Dolphin mencapai puncak kekuatannya pada akhir pekan lalu, pemerintah mengeluarkan status siaga tertinggi. Kebijakan tersebut diikuti pembatalan lebih dari 1.000 penerbangan serta evakuasi puluhan ribu warga dari daerah yang dianggap berisiko.

Topan ini datang hanya berselang dua pekan setelah Topan Noul menerjang wilayah selatan China. Sebelumnya, pada bulan lalu, Topan Maysak juga memicu banjir besar di Guangxi yang menewaskan 39 orang, sementara badai dan angin kencang di Hubei menyebabkan 11 korban jiwa serta ratusan orang lainnya mengalami luka-luka.

Para pakar iklim mengingatkan bahwa pemanasan global akibat tingginya emisi gas rumah kaca diperkirakan akan membuat kejadian cuaca ekstrem semakin sering dan lebih intens di masa mendatang.

Sebagai negara dengan emisi karbon terbesar di dunia, China terus memperluas penggunaan energi terbarukan dan menargetkan tercapainya kondisi netral karbon pada 2060 sebagai bagian dari upaya menekan dampak perubahan iklim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....