Topan Dolphin Terjang Jepang, China Tutup Pelabuhan dan Siaga Banjir

  • 09 Agt 2026 10:12 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Topan Dolphin menerjang Prefektur Okinawa, Jepang, pada Sabtu (8/8), memicu gangguan di berbagai sektor. Cuaca ekstrem tersebut menyebabkan sedikitnya enam orang mengalami luka ringan, memadamkan aliran listrik di puluhan ribu bangunan, serta mengganggu aktivitas transportasi udara.

Dilansir dari Reuters, berdasarkan laporan otoritas setempat, lima korban luka berada di Okinawa, sebagian besar akibat terjatuh karena terpaan angin kencang. Satu korban lainnya dilaporkan berada di Prefektur Kagoshima.

Gangguan listrik meluas, dengan sekitar 39 ribu bangunan di Kagoshima dan lebih dari 12 ribu bangunan di Okinawa kehilangan pasokan listrik. Sejumlah penerbangan yang dioperasikan ANA maupun Japan Airlines dari dan menuju Okinawa juga dibatalkan.

Badai tersebut membawa angin berkecepatan tetap hingga 162 kilometer per jam, disertai embusan yang mencapai 216 kilometer per jam. Wilayah Okinawa dan Kepulauan Amami diperkirakan menjadi daerah yang menerima dampak paling besar di Jepang.

Sementara itu, pemerintah China meningkatkan kesiapsiagaan karena Topan Dolphin diperkirakan mencapai daratan antara Minggu malam hingga Senin dini hari. Otoritas cuaca menetapkan status peringatan oranye, yakni level kedua tertinggi dalam sistem peringatan topan nasional.

Selain itu, pemerintah juga menaikkan status tanggap darurat ke Level III sebagai langkah antisipasi terhadap potensi banjir dan longsor.

Pusat Meteorologi Nasional China memperkirakan titik pendaratan topan berada di kawasan antara Kota Zhoushan, Provinsi Zhejiang, hingga Kota Fuding di Provinsi Fujian. Kecepatan angin di sekitar pusat badai diperkirakan berkisar antara 38 hingga 45 meter per detik.

Pusat Prakiraan Kelautan Nasional China tetap mempertahankan peringatan merah untuk gelombang laut. Gelombang setinggi lima hingga delapan meter diprediksi terjadi di perairan pesisir Zhejiang, sedangkan wilayah pesisir Shanghai dan Fujian bagian utara diperkirakan mengalami gelombang tiga hingga lima setengah meter.

Menghadapi ancaman tersebut, Pemerintah Provinsi Zhejiang menghentikan operasional pelabuhan dan menetapkan status siaga tertinggi di wilayah pesisir. Sejumlah daerah lain di China timur dan selatan juga menghentikan layanan kapal feri, menunda sebagian proyek konstruksi, serta memerintahkan kapal-kapal nelayan kembali ke pelabuhan.

Bandara Internasional Ningbo Lishe mengumumkan penghentian seluruh penerbangan pada Minggu. Di Shanghai, Pelabuhan Yangshan telah dikosongkan dari kapal sejak Jumat malam, sementara beberapa perjalanan kereta api di kawasan Delta Sungai Yangtze juga akan dihentikan.

Pemerintah Beijing menyatakan terus memantau perkembangan pergerakan badai dan telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, termasuk pengendalian banjir dan rencana evakuasi apabila kondisi memburuk.

Di Taiwan, dampak topan memaksa pembatalan 78 penerbangan internasional. Meski hujan lebat diperkirakan melanda wilayah utara pulau itu sepanjang akhir pekan, hingga kini pemerintah setempat belum mengeluarkan instruksi evakuasi.

Di sisi lain, China juga mewajibkan seluruh kapal yang melintas di Selat Taiwan mengikuti pengaturan lalu lintas pelayaran yang diberlakukan selama topan berlangsung. Kebijakan tersebut mendapat penolakan dari pemerintah Taiwan, di tengah sengketa berkepanjangan mengenai status Selat Taiwan yang juga diperdebatkan oleh Amerika Serikat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....