Thailand Siapkan Insentif EV Rp12 Triliun Dukung Transportasi Hijau Nasional

  • 24 Jul 2026 04:57 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Dilansir dari Reuters Pemerintah Thailand tengah mengkaji program senilai 24 miliar baht atau sekitar 920 juta dolar Singapura (setara lebih dari Rp12 triliun) untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Program tersebut ditujukan untuk mengganti hingga 80.000 kendaraan angkutan komersial yang telah berusia tua dengan kendaraan listrik, sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi sekaligus menghidupkan kembali industri otomotif nasional yang sedang menghadapi perlambatan.

Wakil Menteri Perhubungan Thailand, Siripong Angkasakulkiat, mengatakan usulan awal yang diajukan pada Juni 2026 menyasar kendaraan angkutan umum seperti taksi, ojek motor, tuk-tuk, bus, dan truk. Namun, pemerintah kini mempertimbangkan untuk memperluas cakupan program sehingga tidak hanya berlaku bagi kendaraan komersial, tetapi juga seluruh kategori kendaraan listrik yang dibeli masyarakat.

Rencana tersebut mendapat dorongan setelah Mahkamah Konstitusi Thailand pada Juli 2026 menyatakan sah program pinjaman darurat pemerintah senilai 400 miliar baht. Putusan itu membuka peluang bagi pemerintah untuk mengalokasikan anggaran yang lebih besar bagi berbagai program pemulihan ekonomi, termasuk transformasi sektor energi dan transportasi menuju penggunaan kendaraan ramah lingkungan.

Kementerian Perhubungan mengusulkan berbagai bentuk insentif untuk menarik minat masyarakat beralih ke kendaraan listrik, antara lain subsidi pembelian, pinjaman berbunga rendah, serta insentif pajak bagi kendaraan yang memenuhi persyaratan usia penggantian. Salah satu skema yang tengah dipertimbangkan adalah bantuan pembiayaan bagi pengemudi taksi yang harus mengganti kendaraan berusia 10 tahun pada 2027, sehingga cicilan harian kendaraan listrik dapat ditekan dari sekitar 700 baht menjadi 500 baht selama lima tahun.

Kebijakan ini juga bertujuan mengembalikan daya saing industri otomotif Thailand yang merupakan pusat produksi kendaraan terbesar di Asia Tenggara. Penjualan kendaraan domestik sempat turun ke level terendah dalam 15 tahun pada 2024 akibat tingginya utang rumah tangga dan ketatnya penyaluran kredit. Meski demikian, pasar kendaraan listrik terus menunjukkan pertumbuhan. Data Federasi Industri Thailand mencatat penjualan domestik mencapai 621.166 unit kendaraan sepanjang 2025, termasuk 120.301 mobil listrik penumpang, serta sekitar 1,7 juta sepeda motor.

Pelaku industri mendorong agar insentif pemerintah diprioritaskan bagi kendaraan listrik yang diproduksi di dalam negeri dengan kandungan komponen lokal yang tinggi. Langkah tersebut diyakini mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat rantai pasok industri otomotif, serta menambah penerimaan negara. Sejumlah perusahaan otomotif global, termasuk produsen asal Tiongkok, telah menanamkan investasi miliaran dolar di Thailand untuk membangun fasilitas produksi kendaraan listrik.

Program transisi menuju kendaraan listrik menjadi bagian dari strategi jangka panjang Thailand untuk mengurangi emisi karbon, memperkuat ketahanan energi, dan mempertahankan posisinya sebagai basis industri otomotif utama di kawasan ASEAN. Selain mendorong penggunaan mobil listrik, pemerintah juga berencana memperluas dukungan bagi bus listrik, kendaraan niaga, serta pikap ramah lingkungan yang menggunakan biodiesel B20. Apabila terealisasi, kebijakan ini diperkirakan akan mempercepat transformasi transportasi nasional sekaligus menjadi contoh bagi negara-negara Asia Tenggara dalam mewujudkan mobilitas yang lebih bersih dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....