Toyota Ajak Industri Otomotif Jepang Bersatu Hadapi Gempuran Mobil Listrik China

  • 15 Jul 2026 12:06 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Toyota mengusulkan langkah baru untuk memperkuat daya saing industri otomotif Jepang di tengah meningkatnya tekanan dari produsen mobil listrik asal China. Wakil Chairman Toyota, Koji Sato, mengusulkan agar pabrikan otomotif Jepang mulai menggunakan standar komponen yang sama untuk sejumlah suku cadang agar biaya produksi dapat ditekan dan pengembangan teknologi berlangsung lebih efisien.

InsideEVs melaporkan, usulan tersebut muncul setelah penjualan merek-merek otomotif China terus meningkat di berbagai pasar internasional. Di Eropa, penjualan gabungan produsen asal China seperti BYD, SAIC Motor, Geely, Chery, dan Leapmotor bahkan telah melampaui total penjualan merek Jepang pada Mei 2026. Sementara di China sendiri, Toyota dan Honda mengalami penurunan penjualan akibat pesatnya pertumbuhan kendaraan listrik lokal yang menawarkan teknologi lebih canggih dengan harga lebih kompetitif.

Koji Sato menilai kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi industri otomotif Jepang. Dalam pertemuan tahunan bersama para pemasok, Koji Sato mengatakan, "Unless things change, we will not survive."

Ia menegaskan bahwa industri otomotif Jepang sedang menghadapi masa transisi besar sehingga diperlukan perubahan menyeluruh untuk meningkatkan daya saing di pasar global.

Melalui gagasan yang disebut sebagai "Japan Standard", Toyota mengusulkan standardisasi berbagai komponen dasar seperti baja, kabel kelistrikan, hingga material plastik yang selama ini diproduksi dalam banyak variasi oleh masing-masing perusahaan. Dengan menyederhanakan komponen yang tidak terlihat langsung oleh konsumen, produsen diharapkan dapat menghemat biaya produksi sekaligus mengalihkan investasi pada teknologi yang lebih bernilai bagi pelanggan.

Menurut InsideEVs, salah satu contoh yang disampaikan Sato adalah komponen kabel kelistrikan kendaraan. Saat ini pemasok di Jepang memproduksi sekitar 70 ribu varian wiring harness untuk berbagai model kendaraan. Penyederhanaan jumlah komponen tersebut diyakini mampu meningkatkan efisiensi produksi dan menekan biaya di seluruh rantai pasok industri otomotif Jepang.

Dana yang dihemat dari standardisasi komponen itu diharapkan dapat dialihkan untuk mengembangkan teknologi yang menjadi fokus persaingan saat ini, seperti perangkat lunak kendaraan, sistem bantuan pengemudi, baterai berkemampuan pengisian cepat, hingga pengembangan berbagai jenis sistem penggerak kendaraan ramah lingkungan. Toyota menilai aspek-aspek tersebut kini menjadi faktor utama yang dipertimbangkan konsumen dalam memilih kendaraan baru.

Meski demikian, InsideEVs menilai implementasi gagasan tersebut tidak akan mudah karena melibatkan banyak produsen, model kendaraan, serta jaringan pemasok yang memiliki standar produksi berbeda. Penyatuan spesifikasi komponen di seluruh industri membutuhkan koordinasi yang luas dan perubahan besar dalam proses manufaktur yang telah berjalan selama bertahun-tahun.

Di tengah ketatnya persaingan global, Toyota berharap kolaborasi antarpabrikan Jepang dapat menjadi salah satu strategi untuk menghadapi dominasi produsen kendaraan listrik China. Menurut InsideEVs, jika gagasan tersebut berhasil diwujudkan, industri otomotif Jepang berpeluang meningkatkan efisiensi, mempercepat inovasi, dan memperkuat daya saing di pasar otomotif dunia yang terus berubah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....