Topan Bavi Hantam China, Jutaan Warga Dievakuasi demi Keselamatan

  • 13 Jul 2026 07:52 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Topan Bavi mendarat di wilayah timur China pada 11 Juli 2026 sebelum akhirnya melemah menjadi badai tropis kuat pada 12 Juli. Meski intensitasnya menurun setelah mencapai daratan, otoritas China tetap memberlakukan status siaga tinggi mengingat potensi hujan lebat, banjir bandang, dan angin kencang yang masih mengancam sejumlah wilayah. Hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun kerusakan besar akibat terjangan badai tersebut.

Topan Bavi pertama kali mencapai daratan di Provinsi Zhejiang dengan kecepatan angin sekitar 144 kilometer per jam. Setelah bergerak ke arah barat laut menuju kawasan pusat perdagangan Yiwu, kekuatannya berangsur melemah menjadi badai tropis kuat dengan kecepatan angin sekitar 108 kilometer per jam. Meski demikian, wilayah pesisir Zhejiang masih diperkirakan mengalami hujan sangat lebat yang berpotensi memicu banjir, luapan sungai, serta gangguan transportasi.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah China mengevakuasi sekitar 1,72 juta warga ke lokasi yang lebih aman sebelum badai tiba. Berbagai aktivitas publik dihentikan sementara, termasuk kegiatan belajar mengajar, perkantoran, transportasi umum, dan aktivitas luar ruangan. Selain itu, lebih dari 400 penerbangan dan puluhan perjalanan kereta api dibatalkan guna mengurangi risiko terhadap keselamatan masyarakat.

Di sejumlah kota di Zhejiang, warga memperkuat bangunan dan toko menggunakan papan pelindung serta perekat pada kaca jendela untuk mengurangi dampak angin kencang. Sementara itu, lebih dari 130 ribu warga di Provinsi Fujian dan sekitar 34 ribu warga di kawasan pesisir Shanghai juga dievakuasi. Di Beijing, lebih dari 100 ribu penduduk dipindahkan dari daerah rawan banjir, sementara debit air dari Waduk Miyun ditingkatkan untuk mengantisipasi limpasan air hujan.

Sebelum mencapai China, Topan Bavi lebih dahulu menerjang Taiwan bagian utara dan kepulauan barat daya Jepang. Di Taiwan, lebih dari 14 ribu warga dievakuasi, ratusan penerbangan dibatalkan, dan lebih dari 170 ribu rumah mengalami pemadaman listrik. Di Jepang, ribuan rumah tangga di Okinawa juga kehilangan pasokan listrik akibat terpaan angin dan hujan lebat yang melanda wilayah tersebut.

Dampak topan juga dirasakan di Filipina, di mana hujan deras yang dipicu Bavi menyebabkan tanah longsor dan banjir di sejumlah daerah. Korban jiwa dilaporkan meningkat menjadi 18 orang, sementara hampir 11 ribu warga mengungsi. Aktivitas pelayaran turut terganggu dengan ratusan kapal berlindung di pelabuhan dan puluhan pelabuhan ditutup demi keselamatan.

Fenomena cuaca ekstrem seperti Topan Bavi diperkirakan semakin sering terjadi seiring meningkatnya suhu permukaan laut akibat perubahan iklim. Data pemantauan internasional menunjukkan lautan dunia mencatat suhu tertinggi pada bulan Juni, sementara kembalinya fenomena El Nino pada 2026 diperkirakan turut memperkuat pembentukan badai tropis. Kondisi tersebut mendorong banyak negara di kawasan Asia Pasifik untuk memperkuat sistem peringatan dini, kesiapsiagaan bencana, dan upaya mitigasi guna mengurangi risiko terhadap masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....