Polisi Vietnam Bongkar Sindikat Penipuan Online Lintas Negara Rugikan Miliaran

  • 28 Jun 2026 19:27 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Kepolisian Provinsi Ninh Binh, Vietnam, berhasil membongkar sindikat penipuan siber lintas negara yang diduga telah merugikan korban lebih dari 250 miliar dong atau sekitar Rp155 miliar. Dalam operasi tersebut, polisi menangkap 12 orang tersangka yang diduga menjadi bagian dari jaringan kejahatan terorganisasi. Selain menangkap para pelaku, aparat juga menyita sejumlah barang bukti berupa uang tunai, mobil, telepon genggam, komputer, dokumen identitas, perhiasan, serta berbagai dokumen yang berkaitan dengan aktivitas kriminal mereka.

Berdasarkan hasil penyelidikan, dua orang yang diduga menjadi otak sindikat tersebut adalah Nguyen Van Cuong (28) dan Nguyen Van Phuong (34). Polisi mengungkapkan bahwa keduanya merekrut sejumlah warga Vietnam untuk bekerja di Kamboja sebagai operator penipuan daring. Dari negara tersebut, para pelaku menjalankan berbagai aksi kejahatan dengan pembagian tugas yang terstruktur dan memanfaatkan teknologi digital untuk menyasar korban di berbagai wilayah Vietnam.

Sindikat ini menggunakan berbagai modus penipuan yang semakin canggih. Para pelaku menyamar sebagai polisi, jaksa, hakim, pegawai bank, hingga petugas pajak untuk meyakinkan calon korban. Mereka juga membuat situs web dan aplikasi palsu yang menyerupai milik instansi pemerintah maupun perusahaan resmi sehingga korban sulit membedakan mana layanan yang asli dan mana yang merupakan jebakan penipu.

Selain itu, para tersangka menjalankan beragam skenario penipuan, seperti menawarkan pekerjaan paruh waktu palsu, investasi bodong di bidang keuangan, saham, dan mata uang kripto, penipuan berkedok hubungan asmara atau romance scam, hingga membajak akun media sosial korban untuk meminjam uang kepada kerabat atau teman korban. Modus-modus tersebut kini menjadi salah satu bentuk kejahatan siber yang banyak ditemukan di berbagai negara karena memanfaatkan kepercayaan dan kelengahan masyarakat.

Dalam salah satu aksinya, pelaku bahkan berpura-pura menjadi anggota aparat keamanan yang memesan barang dalam jumlah besar kepada toko atau pelaku usaha. Setelah mendapatkan kepercayaan, mereka meminta korban membeli barang tambahan dan mentransfer uang muka ke rekening yang telah ditentukan. Dana tersebut kemudian digelapkan sehingga korban mengalami kerugian yang cukup besar tanpa pernah menerima pembayaran yang dijanjikan.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sejak Oktober 2024, jaringan tersebut telah menipu sekitar 500 korban dengan total keuntungan ilegal mencapai lebih dari 250 miliar dong. Kepolisian Vietnam telah menetapkan enam tersangka sebagai pelaku tindak pidana penipuan dan menahan mereka untuk proses hukum lebih lanjut. Sementara enam tersangka lainnya masih menjalani pemeriksaan karena diduga memiliki peran berbeda dalam jaringan tersebut.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan siber lintas negara terus berkembang seiring pesatnya penggunaan teknologi digital. Aparat Vietnam masih memperluas penyelidikan guna menangkap pelaku lain yang terlibat serta melacak aset hasil kejahatan agar dapat dikembalikan kepada para korban. Masyarakat juga diimbau untuk selalu berhati-hati terhadap tawaran investasi, lowongan kerja, maupun permintaan transfer uang yang mencurigakan, serta selalu memverifikasi identitas pihak yang menghubungi sebelum memberikan data pribadi atau melakukan transaksi keuangan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....