WHO Pangkas Drastis Kasus Suspek Ebola di Kongo, Kini Tersisa 116 Kasus

  • 03 Jun 2026 06:15 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - World Health Organization (WHO) mengoreksi data perkembangan wabah Ebola di Afrika Tengah dengan memangkas tajam jumlah pasien yang sebelumnya masuk kategori dugaan terinfeksi. Pembaruan data pada Selasa menunjukkan angka kasus suspek kini tinggal 116 orang, jauh lebih rendah dibanding laporan sebelumnya yang sempat menyentuh lebih dari 900 kasus. Di saat bersamaan, total infeksi yang telah dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium mencapai 330 kasus.

Berdasarkan laporan per 31 Mei, wilayah terdampak utama berada di Democratic Republic of the Congo, di mana jumlah pasien yang masih berstatus dugaan infeksi tercatat sebanyak 116 orang. Penurunan ini terjadi setelah ratusan laporan awal dievaluasi ulang dan tidak lagi memenuhi kriteria sebagai kasus Ebola.

Di negara tersebut, sebanyak 321 orang telah dinyatakan positif Ebola, dengan 48 di antaranya meninggal dunia. Sementara di negara tetangga, Uganda, otoritas kesehatan mengidentifikasi sembilan kasus positif, termasuk satu korban meninggal.

Juru bicara WHO, Christian Lindmeier, menerangkan bahwa penyesuaian angka terjadi karena banyak pasien yang awalnya dicurigai mengidap Ebola ternyata mengalami penyakit lain yang memiliki gejala awal serupa, atau hanya mengalami demam biasa yang tidak berhubungan dengan wabah.

Ia menjelaskan bahwa setiap individu yang menunjukkan gejala menyerupai Ebola, baik ditemukan melalui pengawasan medis maupun datang langsung ke fasilitas kesehatan, otomatis dicatat sebagai kasus suspek sebelum hasil tes laboratorium keluar.

Penyebaran wabah ini diumumkan secara resmi pada pertengahan Mei di Provinsi Ituri, kawasan timur laut Kongo yang selama ini dikenal sebagai wilayah konflik. Namun para ahli meyakini virus sebenarnya telah menyebar lebih awal tanpa terdeteksi selama beberapa pekan.

Kesulitan identifikasi dini muncul karena wabah kali ini dipicu strain Bundibugyo, jenis Ebola yang menampilkan tanda awal menyerupai penyakit umum seperti influenza, malaria, atau tifus. Kondisi tersebut membuat proses deteksi menjadi lebih rumit pada tahap awal.

Menurut Lindmeier, setelah pengujian dilakukan, banyak pasien yang akhirnya dipastikan tidak tertular Ebola karena ditemukan menderita penyakit lain seperti malaria maupun meningitis. Dengan demikian, data mereka dicoret dari kategori suspek dan tidak lagi tercantum dalam statistik resmi wabah. Sebaliknya, pasien dengan hasil positif dipindahkan ke daftar kasus terkonfirmasi.

WHO memperkirakan jumlah infeksi yang dipastikan positif masih berpotensi meningkat seiring berjalannya pemeriksaan, sementara angka dugaan kasus dapat terus berubah mengikuti hasil verifikasi lapangan. Organisasi tersebut juga menghentikan pencatatan kategori korban meninggal yang sebelumnya hanya diduga akibat Ebola karena validitas datanya dianggap belum memadai.

Di tengah situasi tersebut, enam pasien yang sebelumnya dinyatakan positif dilaporkan berhasil pulih. Sampai saat ini, belum tersedia vaksin maupun terapi medis resmi untuk melawan strain Bundibugyo, sehingga pencegahan penyebaran masih menjadi strategi utama dalam menghadapi wabah tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....