Lalu Lintas Selat Hormuz Turun Drastis akibat Konflik
- 24 Apr 2026 23:20 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Dilansir dari Reuters Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan tajam, dengan hanya lima kapal yang tercatat melintas dalam 24 jam terakhir pada 24 April 2026. Angka ini jauh di bawah rata-rata normal sekitar 140 kapal per hari sebelum konflik antara Iran dan Amerika Serikat memanas sejak akhir Februari. Situasi ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran vital dunia.
Penurunan drastis ini terjadi setelah Iran menyita dua kapal kontainer serta adanya blokade terhadap pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan pelayaran menahan operasional mereka hingga ada jaminan keamanan yang lebih jelas. Para pelaku industri menilai bahwa stabilitas gencatan senjata menjadi faktor utama sebelum aktivitas pelayaran dapat kembali normal.
Menurut BIMCO, jalur alternatif yang saat ini digunakan kapal-kapal terbatas pada rute sempit di dekat Iran dan Oman, yang tidak mampu menampung volume lalu lintas seperti biasanya. Selain itu, meningkatnya risiko keamanan, termasuk penggunaan kapal cepat oleh Iran untuk menyita kapal, semakin memperburuk situasi bagi pelaut dan perusahaan logistik global.
Beberapa kapal yang tetap melintas, termasuk tanker produk minyak berbendera Iran bernama Niki, menunjukkan bahwa aktivitas terbatas masih berlangsung meski penuh ketidakpastian. Sementara itu, perusahaan pelayaran seperti Hapag-Lloyd mengonfirmasi bahwa salah satu kapalnya berhasil melintasi selat, meski tanpa rincian lebih lanjut. Hal ini menandakan bahwa sebagian kecil operator masih mencoba mempertahankan jalur distribusi di tengah risiko tinggi.
Penutupan dan gangguan di Selat Hormuz berdampak besar terhadap pasokan energi global, mengingat sekitar seperlima distribusi minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur ini. Ratusan kapal dan puluhan ribu pelaut kini tertahan di kawasan Teluk, sementara perusahaan asuransi dan energi terus memantau perkembangan situasi. Jika ketegangan berlanjut, krisis energi global berpotensi semakin dalam, memengaruhi harga dan stabilitas ekonomi dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....