Harga BBM Naik, Pengendara Singapura Tetap Enggan Beralih ke Mobil Listrik
- 03 Apr 2026 14:25 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Kenaikan harga bensin secara global ternyata belum cukup kuat untuk mengubah preferensi pengendara di Singapura agar beralih ke kendaraan listrik (EV). Para pelaku industri otomotif menilai, tingginya harga mobil di negara tersebut membuat konsumen lebih fokus pada penyusutan nilai kendaraan dibandingkan pengeluaran bahan bakar.
Dilansir dari CNA, berbeda dengan tren di Eropa dan Australia yang menunjukkan lonjakan minat terhadap EV, pasar di Singapura justru cenderung stabil. Hal ini disebabkan struktur biaya kepemilikan mobil di sana, di mana bahan bakar hanya menyumbang porsi kecil dibandingkan total biaya.
Chief Operating Officer CarTimes Group, Benjamin Loo, mengungkapkan bahwa tidak ada perubahan berarti dalam minat pasar, baik terhadap mobil listrik bekas maupun kendaraan berbahan bakar konvensional dan hybrid.
“Membeli mobil tetap merupakan komitmen besar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penghematan bahan bakar hanya menjadi “keuntungan tambahan yang baik” bagi mereka yang sudah memilih EV, namun belum cukup kuat untuk mendorong pemilik mobil berbahan bakar bensin beralih.
Menurutnya, keputusan pembelian justru lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan seperti insentif bagi pengguna awal serta perubahan pada skema Preferential Additional Registration Fee (PARF), yang berkaitan dengan nilai pengembalian saat kendaraan dilepas.
Di sisi lain, lonjakan harga bensin tetap dirasakan oleh pengguna kendaraan. Setelah konflik global memicu kenaikan, harga sempat melonjak tajam sebelum akhirnya sedikit mereda, meski masih berada di level tinggi.
Manajer editorial SgCarMart, Desmond Chan, menegaskan bahwa membeli mobil di Singapura bukan keputusan spontan karena membutuhkan biaya besar setiap tahunnya.
“Baik mobil baru maupun bekas, Anda kemungkinan mengeluarkan minimal S$14.000 hingga S$17.000 per tahun hanya untuk harga mobil itu sendiri,” katanya. “Jadi, fluktuasi biaya bahan bakar merupakan bagian yang jauh lebih kecil dibandingkan itu … mungkin berpengaruh sedikit, tetapi saya tidak melihatnya sebagai faktor utama.”
Biaya kepemilikan juga diperberat oleh tingginya harga Certificate of Entitlement (COE), yang menjadi syarat utama memiliki kendaraan. Selain itu, perubahan aturan PARF turut membuat isu depresiasi semakin menjadi perhatian utama konsumen.
Chan menilai kondisi ini berbeda dengan negara lain, di mana harga mobil relatif lebih murah sehingga biaya bahan bakar memiliki pengaruh lebih besar terhadap total pengeluaran.
Meski demikian, minat terhadap EV tetap menunjukkan peningkatan bertahap. Trafik pencarian mobil listrik di platform jual beli tercatat naik, namun lebih disebabkan tren jangka panjang serta kebijakan pajak emisi yang lebih ketat, bukan semata-mata karena kenaikan harga bahan bakar.
Direktur EV Direct, Chris Sim, menyebutkan bahwa jumlah pertanyaan terkait EV memang meningkat, tetapi belum berdampak signifikan pada penjualan. Dari pembeli yang ia temui, hanya satu orang yang menjadikan kenaikan harga bahan bakar sebagai alasan utama membeli EV.
“Kami melihat awal dari tren ini dengan meningkatnya pertanyaan karena kenaikan biaya bahan bakar, tetapi kami memperkirakan ini akan berujung pada lebih banyak penjualan EV,” katanya.
Sementara itu, Associate Professor Walter Theseira dari Singapore University of Social Sciences menilai ada berbagai faktor lain yang menghambat peralihan ke kendaraan listrik.
Ia menjelaskan bahwa konsumen masih memiliki opsi lebih praktis, yakni beralih ke mobil hybrid untuk menekan biaya bahan bakar tanpa harus sepenuhnya berpindah ke EV.
“Biaya bahan bakar sudah bisa ditekan secara signifikan jika pembeli beralih ke hybrid,” katanya.
Menurutnya, efisiensi biaya operasional EV di Singapura juga belum terlalu unggul dibandingkan kendaraan konvensional, terutama karena sebagian besar pengguna bergantung pada fasilitas pengisian komersial yang biayanya lebih tinggi dibandingkan pengisian di rumah.
Dalam hal depresiasi, ia menyarankan pembeli untuk mempertimbangkan mobil bekas yang mendekati akhir masa penggunaan, karena nilai kendaraan biasanya turun tajam di awal masa kepemilikan.
Namun, ia menilai pilihan tersebut belum berlaku untuk EV karena belum banyak unit yang mendekati akhir masa pakai dengan kualitas yang layak.
“Tidak ada yang ingin menggunakan EV era 2010, karena kualitasnya jauh tertinggal dibandingkan yang dibuat pada 2020,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, mobil konvensional berusia lebih tua masih dianggap lebih efisien bagi konsumen yang ingin meminimalkan kerugian.
Ia pun menyarankan pemilik kendaraan saat ini untuk tidak terburu-buru mengganti mobil mereka.
“Sangat kecil kemungkinan Anda bisa berhemat dengan mengganti mobil lama yang sudah mengalami depresiasi tinggi dengan EV baru,” katanya. “Penghematan bahan bakar akan habis karena Anda kembali memulai siklus depresiasi dari titik yang tinggi.”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....