Bos Energi Qatar: Serangan ke Iran Picu Dampak Besar bagi Kawasan

  • 21 Mar 2026 23:04 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Pimpinan sektor energi Qatar memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya serangan terhadap fasilitas energi Iran, membawa risiko besar bagi stabilitas kawasan. Ia mengungkapkan bahwa peringatan tersebut sebenarnya telah disampaikan jauh sebelum konflik memanas.

Dikutip dari Reuters, Menteri Energi sekaligus CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, mengatakan dirinya telah berulang kali mengingatkan Amerika Serikat dan mitra industri mengenai bahaya memicu Iran melalui serangan terhadap infrastruktur energi.

Ia menegaskan bahwa risiko tersebut bukan hal baru. “Saya telah memperingatkan hampir setiap hari tentang konsekuensi jika fasilitas minyak dan gas Iran diserang,” ujarnya dalam wawancara dengan Reuters.

Peringatan tersebut terbukti setelah fasilitas energi utama Qatar di Ras Laffan menjadi sasaran serangan balasan Iran. Serangan itu menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur penting dan berdampak langsung pada produksi gas alam cair (LNG) negara tersebut.

Reuters melaporkan bahwa serangan tersebut mengganggu sekitar 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara nasional, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasokan energi global, terutama ke Eropa dan Asia.

Kaabi juga mengungkapkan bahwa proyek ekspansi besar Qatar di sektor gas kini mengalami penundaan akibat kerusakan tersebut. Ia menyebut aktivitas pengembangan terhenti dan kemungkinan akan mundur berbulan-bulan hingga lebih lama.

Menurutnya, dampak konflik tidak hanya terbatas pada sektor energi. “Ini membawa kawasan mundur 10 hingga 20 tahun,” katanya, merujuk pada gangguan terhadap perdagangan, penerbangan, dan sektor ekonomi lainnya.

Di sisi lain, Qatar berhasil mengevakuasi ribuan pekerja dari fasilitas yang terdampak tanpa korban jiwa. Namun demikian, pemulihan produksi diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Kaabi menegaskan bahwa produksi tidak dapat kembali normal selama konflik masih berlangsung. “Untuk memulai kembali produksi, pertama kita harus menghentikan permusuhan,” ujarnya.

Kondisi ini mempertegas kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga dapat memicu gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi global serta stabilitas ekonomi dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....