Banjir Hawaii Paksa 5.500 Warga Mengungsi, Bendungan Tua Terancam Jebol
- 21 Mar 2026 20:34 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Lebih dari 5.500 warga di Hawaii diminta meninggalkan tempat tinggal mereka menyusul banjir besar yang melanda sejumlah wilayah, di tengah kekhawatiran otoritas terhadap potensi jebolnya bendungan tua berusia lebih dari satu abad.
Dilansir dari AP, hujan dengan intensitas tinggi memicu luapan air berlumpur yang merendam jalan, merusak rumah, hingga menyeret kendaraan. Kondisi tersebut terjadi di kawasan utara Honolulu pada Jumat, 20 Maret 2026, sehingga memaksa pemerintah setempat mengeluarkan perintah evakuasi bagi ribuan penduduk.
Sistem peringatan darurat di wilayah North Shore, Pulau Oahu, pun diaktifkan ketika permukaan air terus meningkat. Kawasan yang dikenal luas sebagai destinasi selancar itu mengalami kerusakan cukup parah. Warga yang tinggal di daerah hilir Bendungan Wahiawa diminta segera mengungsi karena struktur bendungan dinilai berada dalam kondisi berisiko tinggi.
Hingga saat ini belum dilaporkan adanya korban jiwa maupun luka-luka. Namun, beberapa bangunan tempat tinggal dilaporkan hanyut akibat derasnya arus. Tim penyelamat melakukan pencarian melalui jalur udara dan perairan untuk menemukan warga yang mungkin masih terjebak, meski upaya tersebut sempat terganggu oleh penggunaan drone pribadi di area bencana.
Wali Kota Honolulu, Rick Blangiardi, menyebut skala kerusakan yang terjadi sangat besar, meskipun belum seluruhnya terdata. Ia memperkirakan puluhan hingga ratusan rumah terdampak. Menurutnya, dampak yang ditimbulkan dari bencana ini sudah tergolong sangat parah.
Sekitar 5.500 orang saat ini berada dalam status evakuasi. Meski sejumlah bendungan lain di wilayah tersebut dinilai masih aman, pihak berwenang mengakui sulit memprediksi dampak lanjutan dari curah hujan yang masih berpotensi terjadi.
Dalam upaya penyelamatan, Garda Nasional bersama petugas pemadam kebakaran mengevakuasi 72 orang dari sebuah lokasi perkemahan musim semi di pesisir barat Oahu. Meski berada di area yang relatif tinggi, akses menuju lokasi tersebut terputus akibat genangan air.
Sementara itu di Pulau Maui, peringatan evakuasi juga dikeluarkan untuk sejumlah wilayah di Lahaina setelah kapasitas kolam penampungan air hampir penuh. Kawasan ini sebelumnya pernah terdampak kebakaran besar pada 2023.
Otoritas setempat terus memantau kondisi sejak badai sebelumnya membawa hujan deras yang memicu banjir dan merusak infrastruktur. Prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan tambahan dalam beberapa hari ke depan, meski dengan intensitas lebih rendah.
Gubernur Hawaii, Josh Green, menyatakan kondisi saat ini masih belum stabil dan dapat berubah sewaktu-waktu. Sebagian besar wilayah negara bagian tersebut masih berada dalam status siaga banjir, termasuk peringatan banjir bandang di beberapa area utara Oahu.
Salah satu lokasi pengungsian di Waialua juga harus dikosongkan karena terdampak banjir. Ratusan warga dan puluhan hewan peliharaan dipindahkan ke tempat lain, meskipun sebagian masih bertahan di lokasi tersebut hingga siang hari.
Curah hujan yang tercatat dalam semalam mencapai 20 hingga 30 sentimeter di sejumlah wilayah, bahkan mendekati 40 sentimeter di daerah pegunungan. Kondisi ini memperparah tingkat kejenuhan tanah akibat hujan sebelumnya.
Fenomena cuaca yang dikenal sebagai “Kona low” disebut menjadi pemicu hujan ekstrem tersebut. Para ahli menilai, peningkatan intensitas dan frekuensi hujan lebat di Hawaii berkaitan dengan dampak perubahan iklim global.
Seorang warga Waialua mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi bendungan yang kerap menjadi ancaman setiap kali hujan deras terjadi. Ia berharap situasi tidak semakin memburuk meski hujan diperkirakan masih akan turun.
Pemerintah negara bagian menilai bendungan tersebut memiliki tingkat risiko tinggi. Jika sampai mengalami kegagalan struktur, potensi korban jiwa dinilai sangat besar.
Bendungan Wahiawa sendiri dibangun pada awal abad ke-20 untuk mendukung industri gula, dan pernah mengalami kerusakan pada 1921 sebelum akhirnya dibangun kembali. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah beberapa kali menyoroti aspek keselamatan bendungan tersebut.
Perusahaan yang terkait dengan pengelolaan bendungan sebelumnya juga sempat dikenai sanksi karena keterlambatan dalam melakukan perbaikan. Meski demikian, pihak perusahaan menyatakan kondisi bendungan saat ini masih beroperasi sesuai fungsinya.
Secara keseluruhan, terdapat lebih dari 130 bendungan di Hawaii yang sebagian besar merupakan peninggalan sistem irigasi lama, dan kini berada dalam pengawasan pemerintah setempat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....