Sidang Kebakaran Wang Fuk Court Hong Kong Ungkap Kegagalan Sistem Keamanan

  • 20 Mar 2026 14:31 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Persidangan publik di Hong Kong mengungkap fakta mengejutkan terkait kebakaran besar yang terjadi tahun lalu di sebuah kompleks hunian. Dalam sidang yang digelar Kamis (19 Maret), terungkap bahwa hampir seluruh perangkat keselamatan yang seharusnya melindungi penghuni justru tidak berfungsi saat insiden berlangsung.

Dilansir dari AFP, peristiwa yang terjadi pada 26 November di Wang Fuk Court itu menewaskan 168 orang, menjadikannya salah satu kebakaran hunian paling mematikan sejak dekade 1980-an. Kompleks apartemen bertingkat tersebut berada di kawasan Tai Po dan dihuni ribuan warga saat kejadian berlangsung.

Api dilaporkan menyebar dengan sangat cepat, menghanguskan tujuh dari delapan menara di kawasan tersebut. Kondisi bangunan yang tengah direnovasi, lengkap dengan perancah bambu, jaring pelindung, dan material ringan lainnya, diduga memperparah laju penyebaran api.

Dalam persidangan, penasihat hukum utama Victor Dawes menyebut tragedi ini sebagai luka kolektif bagi masyarakat Hong Kong. Ia menegaskan bahwa hasil investigasi menunjukkan kegagalan sistem keselamatan lebih banyak dipicu oleh kelalaian manusia, bukan semata faktor teknis.

Ia juga menilai proses pengungkapan fakta ini tidak mudah, namun menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Kebakaran tersebut dikategorikan sebagai “facade fire”, yakni api yang merambat melalui bagian luar bangunan akibat kombinasi berbagai elemen pemicu.

Tim penyelidik diketahui telah mengumpulkan lebih dari satu juta dokumen sebagai bahan analisis, termasuk rekaman visual dan kesaksian dari penghuni, pekerja proyek, hingga petugas pemadam. Saat insiden terjadi, kompleks tersebut dihuni lebih dari 4.600 orang, dengan sekitar sepertiganya merupakan lansia.

Sejumlah rekaman yang diputar di ruang sidang memperlihatkan kobaran api yang dengan cepat menjalar ke bagian atas gedung. Dalam salah satu video, terdengar keluhan warga mengenai tidak aktifnya alarm kebakaran.

Upaya penghuni untuk menggunakan peralatan pemadam dan mengaktifkan sistem peringatan juga dilaporkan tidak membuahkan hasil karena tidak berfungsi. Di sisi lain, runtuhnya perancah bambu turut menghambat proses pemadaman dan bahkan menutup jalur evakuasi utama dalam waktu singkat.

Sekitar seratus orang mengikuti jalannya persidangan melalui siaran langsung di fasilitas publik. Ketegangan terasa ketika rekaman lain memperlihatkan satu bangunan dilalap api hanya dalam hitungan menit.

Kekecewaan terhadap pemerintah juga mencuat dari sejumlah warga. Mereka menuntut pertanggungjawaban serta langkah tegas terhadap pihak-pihak yang dianggap lalai dalam menjamin keselamatan penghuni.

Mantan penghuni kompleks, Seneca Lee, menegaskan pentingnya mengungkap penyebab utama kebakaran dan pihak yang bertanggung jawab. Ia menyoroti cepatnya penyebaran api yang dinilai tidak wajar hingga sulit dikendalikan.

Sementara itu, seorang warga lanjut usia bermarga Law mengaku bingung mengapa sistem alarm tidak berfungsi saat kondisi darurat. Ia juga mengungkapkan duka mendalam karena kehilangan anggota keluarganya dalam tragedi tersebut.

Persidangan ini rencananya akan menghadirkan berbagai pihak, termasuk pejabat pemerintah, pengelola gedung, serta perwakilan perusahaan konstruksi. Komite yang dipimpin hakim akan mendalami kemungkinan adanya pelanggaran standar keselamatan, kesalahan dalam proses pembangunan, hingga kelalaian dari pihak terkait.

Di sisi lain, aparat kepolisian Hong Kong masih melakukan penyelidikan pidana dan telah menahan puluhan orang dengan berbagai dakwaan, termasuk kelalaian yang menyebabkan kematian. Lembaga antikorupsi setempat juga turut mengamankan sejumlah pihak yang diduga terlibat, mulai dari konsultan hingga pengelola kompleks tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....