Serangan Fasilitas Gas Iran Picu Ancaman Balasan ke Infrastruktur Energi Teluk
- 19 Mar 2026 12:27 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah fasilitas gas Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan pada Rabu. Insiden tersebut mendorong Teheran mengeluarkan ancaman akan menargetkan berbagai instalasi energi di negara-negara Teluk dalam waktu dekat.
Dikutip dari Reuters, media pemerintah Iran melaporkan bahwa fasilitas energi di South Pars dan Asaluyeh menjadi target serangan. Sebagai respons, Iran memperingatkan bahwa instalasi energi di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar dapat menjadi sasaran dalam beberapa jam ke depan.
Pasar energi global langsung bereaksi terhadap kabar tersebut. Harga minyak dunia melonjak tajam, dengan minyak mentah Brent naik lebih dari 6 persen dan mendekati 110 dolar AS per barel pada perdagangan hari itu.
Serangan terhadap infrastruktur energi Iran memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik ke fasilitas energi strategis di kawasan Teluk. Reuters melaporkan bahwa kondisi ini berpotensi memperpanjang gangguan distribusi energi global, terutama setelah Selat Hormuz praktis tidak dapat dilalui akibat konflik.
Sejumlah negara di kawasan menyampaikan kekhawatiran atas eskalasi tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut serangan itu sebagai tindakan yang berbahaya. “Serangan hari Rabu adalah eskalasi yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab yang membahayakan keamanan energi global,” ujarnya.
Sementara itu, Uni Emirat Arab menekankan pentingnya menjaga agar fasilitas vital tidak menjadi target serangan. Qatar juga menyebut insiden tersebut sebagai serangan yang dilakukan oleh Israel, meski tidak secara langsung menyebut keterlibatan Amerika Serikat.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Garda Revolusi Iran mengeluarkan peringatan evakuasi terhadap sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk. Lokasi yang disebut antara lain Kilang Samref dan Kompleks Petrokimia Jubail di Arab Saudi, ladang gas Al Hosn di UEA, serta fasilitas di Mesaieed dan Ras Laffan di Qatar.
Reuters melaporkan bahwa proses evakuasi di fasilitas LNG Ras Laffan telah dilakukan, berdasarkan keterangan sumber yang mengetahui situasi tersebut. Langkah ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi serangan lanjutan.
Analis Timur Tengah dari Verisk Maplecroft, Torbjorn Soltvedt, menilai situasi ini berpotensi memperpanjang konflik. “Kekhawatiran terbesar adalah potensi serangan terhadap pipa gas Timur-Barat Arab Saudi atau fasilitas ekspor di Laut Merah,” ujarnya.
Selain itu, dampak konflik juga mulai dirasakan di sektor energi regional. Seorang pejabat Irak mengatakan aliran gas dari Iran ke negaranya terhenti karena Teheran mengalihkan pasokan untuk kebutuhan domestik.
Dengan posisi South Pars sebagai salah satu ladang gas terbesar di dunia, gangguan terhadap fasilitas ini dinilai berisiko besar terhadap pasokan energi global. Kondisi tersebut semakin memperkuat kekhawatiran bahwa konflik di kawasan dapat berdampak luas terhadap stabilitas energi dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....