Pernikahan di Singapura Turun Tajam Sepanjang 2025
- 24 Feb 2026 17:03 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Jumlah pasangan yang menikah di Singapura pada 2025 mengalami penurunan signifikan dan menjadi yang terendah sejak masa pandemi Covid-19 pada 2020. Data terbaru menunjukkan hanya 24.687 pasangan yang mengikat janji pernikahan sepanjang tahun tersebut, turun 6,2 persen dibandingkan 26.328 pernikahan pada 2024.
Penurunan ini menjadi perhatian para akademisi karena menandai tiga tahun berturut-turut angka pernikahan terus menurun sejak lonjakan pascapandemi pada 2022 yang mencapai 29.389 pasangan. Saat itu, banyak pasangan yang sebelumnya menunda pernikahan akibat pembatasan sosial akhirnya melangsungkan pernikahan secara bersamaan.
Para peneliti menilai tren ini berpotensi memperburuk tingkat kesuburan total atau Total Fertility Rate (TFR) Singapura yang sudah tergolong sangat rendah. Pada 2024, TFR tercatat hanya 0,97 anak per perempuan, sementara angka resmi untuk 2025 diperkirakan tidak menunjukkan perbaikan signifikan.
Wakil Perdana Menteri Singapura, Gan Kim Yong, bahkan menyatakan bahwa kecil kemungkinan ada kabar baik terkait angka kelahiran pada 2025. Meski tahun naga biasanya memicu peningkatan sementara angka kelahiran, fenomena tersebut tidak terjadi secara berarti dalam beberapa tahun terakhir.
Penurunan angka pernikahan juga dipengaruhi perubahan demografi. Jumlah penduduk usia menikah, khususnya kelompok usia 20 hingga awal 30-an tahun, semakin berkurang. Selain itu, ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya biaya hidup, serta tensi geopolitik turut membuat banyak pasangan menunda rencana menikah.
Perubahan pola pikir generasi muda juga menjadi faktor penting. Banyak warga Singapura kini memilih menikah di usia lebih matang setelah memastikan stabilitas karier dan keuangan. Investasi pada pendidikan dan kesiapan menghadapi perubahan ekonomi akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut mendorong keputusan tersebut.
Data menunjukkan usia median pernikahan pertama terus meningkat dalam dua dekade terakhir. Pada pria, usia menikah naik dari 29,4 tahun pada 2004 menjadi 31,1 tahun pada 2024. Sementara pada perempuan, meningkat dari 26,7 tahun menjadi 29,6 tahun.
Para ahli menilai tren menikah lebih lambat — bahkan memilih tidak menikah — akan berdampak langsung pada angka kelahiran. Di Singapura, kelahiran di luar pernikahan masih jarang terjadi secara sosial maupun hukum, sehingga jumlah pernikahan menjadi indikator utama pertumbuhan populasi.
Meski demikian, kisah pasangan seperti Kelvin Ngian (41) dan Charmaine Cheong (32) menunjukkan bahwa keputusan menikah kini lebih didasarkan pada kesiapan emosional dan stabilitas hidup. Setelah menjalin hubungan selama lima tahun, keduanya akhirnya menikah pada November 2025 dan berharap memiliki dua anak di masa depan.
Fenomena ini menggambarkan perubahan besar dalam dinamika keluarga modern Singapura, di mana pernikahan tidak lagi dianggap sebagai langkah awal kehidupan dewasa, melainkan keputusan jangka panjang yang membutuhkan kesiapan menyeluruh.
Catatan redaksi :
Tulisan ini hasil modifikasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....