Festival Sakura Fuji Dibatalkan Demi Ketertiban Warga
- 04 Feb 2026 21:57 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam: Dilansir dari Kyodo News Pemerintah Kota Fujiyoshida di Prefektur Yamanashi, Jepang tengah, memutuskan membatalkan Festival Sakura Arakurayama Sengen Park pada 3 Februari 2026. Festival yang rutin digelar selama 10 tahun terakhir ini biasanya menarik sekitar 200.000 pengunjung setiap musim semi berkat panorama ikonik Gunung Fuji berlatar pagoda lima tingkat dan bunga sakura bermekaran. Keputusan pembatalan diambil setelah meningkatnya keluhan warga terkait kemacetan parah dan perilaku pengunjung yang dinilai mengganggu ketertiban.
Lonjakan wisatawan—didongkrak melemahnya nilai yen dan masifnya promosi destinasi di media sosial—membuat kota kecil ini kewalahan. Pada puncak musim sakura, jumlah pengunjung dapat menembus 10.000 orang per hari. Antrean untuk mencapai titik foto populer bahkan bisa mencapai tiga jam. Tekanan terhadap infrastruktur lokal pun meningkat, mulai dari kepadatan trotoar hingga keterbatasan fasilitas sanitasi.
Pemerintah kota menyoroti berbagai insiden yang mengganggu kenyamanan warga, termasuk pengunjung yang masuk ke rumah pribadi untuk menggunakan toilet, buang air di halaman warga, serta keributan ketika ditegur. Orang tua dan warga juga mengkhawatirkan keselamatan anak-anak yang berangkat sekolah karena jalur pejalan kaki dipadati wisatawan. Situasi ini dinilai mengancam kualitas hidup masyarakat setempat.
Meski tidak menggelar festival resmi atau mempromosikan nama acara di situs pariwisata, Fujiyoshida tetap bersiap menghadapi arus pengunjung pada April. Langkah mitigasi yang disiapkan meliputi penambahan petugas keamanan, penyediaan parkir sementara, pemasangan toilet portabel, pengaturan arus lalu lintas pejalan kaki, serta penertiban area foto. Pemerintah kota juga mendorong etika berwisata melalui papan informasi multibahasa dan kampanye perilaku bertanggung jawab.
Wali Kota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi, menegaskan bahwa Gunung Fuji bukan semata objek wisata, melainkan bagian dari ruang hidup warga. Ia menyampaikan keprihatinan bahwa di balik lanskap indah, ketenangan kehidupan masyarakat terancam. Ke depan, kota ini mempertimbangkan pendekatan sustainable tourism—termasuk pengaturan kapasitas kunjungan, penjadwalan berbasis reservasi di titik foto populer, serta kolaborasi dengan platform perjalanan untuk menyebarkan arus wisata ke lokasi alternatif—agar pariwisata tetap memberi manfaat tanpa mengorbankan kenyamanan warga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....