Di Usia 83 Tahun, Mbah Jumirah Tiba di Tanah Suci dengan Doa untuk Keluarga

  • 29 Apr 2026 22:13 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Madinah - Di bawah terik siang Madinah, seorang perempuan lanjut usia diturunkan perlahan dari bus yang membawa rombongan jamaah haji Indonesia. Tubuhnya kecil, langkahnya tak lagi kuat menopang usia. Ia harus digendong petugas sebelum akhirnya didudukkan di kursi lipat di samping kendaraan.

Perempuan itu adalah Jumirah, 83 tahun yang akhirnya menjejakkan kaki di Tanah Suci setelah menunggu bertahun-tahun.

Ia tidak datang sendiri. Di sisinya, sang putra bungsu, Saiful Amar, setia mendampingi perjalanan ibadah yang bagi ibunya menjadi mimpi panjang sejak lama.

“Ibu sehat selama perjalanan, makannya juga enak,” ujar Saiful, Selasa, 28 April 2026.

Sesampainya di hotel di Madinah, suasana penyambutan terasa meriah. Para petugas menyambut jamaah dengan taburan bunga, teh hangat beraroma rempah, dan kurma. Karpet merah pun digelar sebagai simbol penghormatan bagi para tamu Allah.

Namun, Mbah Jumirah tidak melintasi karpet itu. Ia harus menunggu di lobi bersama anaknya, menanti proses administrasi, sementara jamaah lain berjalan masuk ke hotel.

Perjalanan menuju titik ini bukan tanpa cerita. Mbah Jumirah awalnya mendaftar haji bersama suaminya pada 2017. Namun takdir berkata lain sang suami wafat sebelum keberangkatan.

Kini, hanya doa yang bisa ia kirimkan dari Tanah Suci.

“Ia tetap berangkat, ditemani anaknya,” kata Saiful.

Di tengah keterbatasan fisik, Mbah Jumirah membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk mandi dan makan. Menyadari hal itu, petugas haji Indonesia menyiapkan layanan khusus bagi jamaah lansia dan disabilitas.

Tim ini membantu kebutuhan dasar mulai dari perawatan hingga pendampingan intensif agar jamaah tetap dapat menjalankan ibadah dengan aman dan layak.

Mendengar penjelasan tersebut, Saiful mengaku lega. Ia sempat khawatir tidak bisa merawat ibunya seorang diri selama di Tanah Suci.

Kini, di usia yang telah melewati delapan dekade, Mbah Jumirah justru tampak bahagia.

Hotel tempatnya menginap hanya berjarak puluhan meter dari Masjid Nabawi salah satu tempat paling suci bagi umat Islam.

Dari sana, ia membawa doa-doa yang sederhana namun dalam: untuk suaminya yang telah tiada, untuk anak-anak dan cucunya, serta untuk keluarga yang masih berjuang di kampung halaman.

Di antara jutaan jamaah dari seluruh dunia, kisah Mbah Jumirah menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati, yang dipenuhi kesabaran, kehilangan, dan harapan yang tak pernah padam.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....