Dapur Indonesia di Madinah: Menjaga Rasa Rumah di tengah Ibadah Haji

  • 26 Apr 2026 22:07 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Madinah - Di sebuah sudut kota Madinah, jauh dari Tanah Air, aroma rempah khas Indonesia menguar dari sebuah dapur besar yang tak pernah benar-benar sepi.

Di sinilah ribuan porsi makanan disiapkan setiap hari untuk jamaah haji Indonesia—menghadirkan bukan hanya asupan energi, tetapi juga rasa yang akrab bagi mereka yang sedang menjalani ibadah jauh dari rumah.

Dapur Uhud Taiba for Catering, yang berlokasi di kawasan Prince Naif ibn Abdulaziz Road, menjadi salah satu pusat penyedia konsumsi bagi jamaah haji Indonesia pada musim haji 2026.

Puluhan koki terlihat sibuk sejak pagi, mengolah bahan makanan dengan teknik memasak khas Nusantara—menggoreng, memanggang, hingga meracik bumbu tradisional yang didatangkan langsung dari Indonesia.

Di tengah aktivitas itu, Muhammad Suhendi memimpin timnya dengan satu prinsip sederhana: melayani jamaah seperti keluarga sendiri.

“Kami anggap jamaah seperti orang tua kami, jadi harus kami layani dengan sepenuh hati,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima RRI, Minggu 26 April 2026.

Setiap hari, sekitar 6.000 porsi makanan disiapkan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Menu yang dihadirkan pun tidak asing bagi lidah Indonesia—mulai dari rendang, gepuk, teri balado, hingga tempe dan sayuran.

Bumbu-bumbu seperti jahe, kemiri, pala, dan kayu manis menjadi dasar dari setiap masakan, menjaga cita rasa tetap otentik meski berada ribuan kilometer dari Tanah Air.

Di balik dapur, proses produksi berlangsung cepat namun terorganisir. Daging diolah dalam jumlah besar, ayam dipanggang dengan peralatan modern berkapasitas tinggi, sementara bahan makanan disortir dan disimpan di ruang pendingin sesuai standar kebersihan.

Seluruh proses diawasi ketat, termasuk melalui sistem kamera, untuk memastikan keamanan dan kualitas makanan tetap terjaga.

Tak hanya soal rasa, aspek gizi juga menjadi perhatian utama. Tenaga ahli gizi berlisensi di Arab Saudi memastikan setiap menu memenuhi kebutuhan nutrisi jamaah—yang sebagian besar merupakan lanjut usia.

Dalam waktu sekitar dua jam, makanan dimasak, dikemas secara higienis, dan langsung didistribusikan agar tetap hangat saat diterima jamaah.

Bagi para pengelola dapur, layanan ini bukan sekadar soal logistik. Di tengah padatnya rangkaian ibadah, makanan menjadi pengingat akan rumah—sesuatu yang sederhana, namun berarti bagi jamaah yang jauh dari keluarga.

Di antara lantunan doa dan langkah menuju tempat ibadah, sepiring makanan hangat dengan rasa yang familiar menjadi penopang yang tak terlihat—menjaga kekuatan fisik, sekaligus meredakan rindu akan kampung halaman.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....