Lagu Lama Mendadak Viral Lagi
- 17 Sep 2026 15:23 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Lagu yang sudah berusia puluhan tahun ternyata belum tentu selesai dengan masanya. Di era TikTok, Instagram Reels, layanan streaming, film, dan serial, lagu lama bisa kembali ditemukan generasi baru, bahkan mencatat pencapaian yang sebelumnya belum pernah diraih ketika pertama kali dirilis.
Salah satu contoh paling jelas adalah “Running Up That Hill (A Deal with God)” milik Kate Bush. Lagu yang dirilis pada 1985 itu kembali meledak setelah digunakan dalam serial Stranger Things musim keempat pada 2022. Lagu tersebut sebelumnya mencapai posisi ke-30 di Billboard Hot 100 Amerika Serikat ketika pertama kali dirilis, tetapi setelah kemunculannya di Stranger Things, lagu itu mencapai posisi ketiga di Billboard Hot 100 dan bahkan menduduki posisi pertama tangga lagu Inggris selama tiga pekan. Pada 2023, lagu tersebut juga telah melewati satu miliar streaming di Spotify.
Kebangkitan serupa terjadi pada “Dreams” milik Fleetwood Mac. Lagu yang dirilis pada 1977 itu kembali menjadi perhatian pada 2020 setelah pengguna TikTok Nathan Apodaca mengunggah video dirinya bermain skateboard sambil meminum jus cranberry dengan lagu tersebut sebagai latar. Video itu kemudian viral dan membawa “Dreams” kembali masuk ke tangga lagu. Billboard mencatat lagu tersebut akhirnya mencapai posisi kesembilan di Canadian Hot 100 pada 2020, sementara penjualan dan streamingnya ikut melonjak. Data Billboard juga menunjukkan album Rumours mengalami kenaikan penjualan digital dan streaming setelah video viral tersebut.
Contoh berikutnya datang dari “Murder on the Dancefloor” milik Sophie Ellis-Bextor. Lagu tersebut pertama kali dirilis pada 2001 dan awalnya mencapai posisi kedua di Official Singles Chart Inggris. Lebih dari dua dekade kemudian, lagu tersebut digunakan dalam film Saltburn dan kembali masuk ke tangga lagu Inggris. Pada Januari 2024, lagu itu kembali berada di Top 10 untuk pertama kalinya dalam 22 tahun dan kemudian menyamai pencapaian terbaiknya di posisi kedua. Official Charts bahkan mencatat “Murder on the Dancefloor” sebagai lagu terbesar 2024 dari artis perempuan Inggris.
Film juga menghidupkan kembali “Unwritten” milik Natasha Bedingfield. Lagu yang dirilis pada 2004 tersebut kembali viral setelah digunakan dalam film komedi romantis Anyone But You. Di Inggris, “Unwritten” sebelumnya mencapai posisi keenam saat pertama dirilis, tetapi pada 2024 lagu tersebut kembali masuk ke tangga lagu dan mencapai posisi ke-12. Official Charts mencatatnya sebagai salah satu lagu lama yang memperoleh “second wind” berkat penggunaan dalam film populer.
Tidak hanya lagu pop dan rock yang mengalami fenomena tersebut. Pada 2025, lagu “Pretty Little Baby” milik Connie Francis menjadi salah satu contoh paling ekstrem. Lagu tersebut pertama kali dirilis pada 1962, tetapi lebih dari enam dekade kemudian kembali ditemukan oleh pengguna TikTok. TikTok memasukkan lagu tersebut sebagai Top Global Song 2025 setelah digunakan dalam lebih dari 28,4 juta video dengan total lebih dari 68,6 miliar views. Lagu yang tidak pernah masuk Billboard Hot 100 pada masa awal perilisannya itu kemudian memperoleh lebih dari 130 juta streaming Spotify dan masuk ke Billboard Global 200 serta tangga lagu Inggris.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ukuran sebuah lagu di era sekarang tidak lagi hanya ditentukan oleh usia maupun performanya ketika pertama kali dirilis. Lagu lama memiliki keuntungan karena sudah mempunyai melodi dan lirik yang terbukti mampu bertahan, tetapi generasi baru membutuhkan alasan untuk menemukannya. TikTok, Reels, film, dan serial menyediakan alasan tersebut melalui potongan adegan, meme, tren, koreografi, cerita personal, hingga penggunaan lagu sebagai latar video sehari-hari.
Dari sisi media sosial, mekanismenya juga cukup sederhana. Satu video menggunakan lagu tertentu, kemudian pengguna lain membuat video dengan audio yang sama. Ketika jumlah penggunaan meningkat, semakin banyak orang mendengar lagu tersebut dan terdorong mencari versi lengkapnya di platform streaming. Peneliti juga menemukan adanya hubungan antara popularitas lagu di TikTok dan peningkatan perhatian terhadap lagu tersebut di luar platform, termasuk pencarian di internet. Penelitian lain mengenai dampak media sosial terhadap konsumsi musik menemukan bahwa efek tersebut dapat berbeda berdasarkan usia lagu dan seberapa besar dukungan promosi yang dimilikinya.
Ada faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu nostalgia. Menariknya, orang yang membuat lagu lama kembali viral belum tentu merupakan orang yang pernah hidup pada era ketika lagu tersebut dirilis. Generasi muda justru bisa menciptakan hubungan baru dengan musik lama melalui konten yang mereka lihat sekarang. Lagu 1970-an, 1980-an, bahkan 1960-an akhirnya tidak lagi dipandang sebagai musik dari generasi orang tua, tetapi menjadi soundtrack untuk tren dan cerita generasi baru.
Data industri musik juga memperlihatkan bahwa musik lama memang memiliki porsi besar dalam konsumsi streaming. Menurut laporan Luminate yang diberitakan Associated Press, pada 2025 hanya 43 persen streaming audio berdasarkan permintaan di Amerika Serikat berasal dari lagu yang dirilis dalam lima tahun terakhir. Artinya, mayoritas konsumsi streaming berasal dari katalog yang lebih lama. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pendengar tidak hanya mengejar rilisan baru, tetapi terus menemukan kembali musik dari berbagai periode.
Pada akhirnya, viralnya lagu lama bukan sekadar soal algoritma yang tiba-tiba memilih sebuah audio. Ada kombinasi antara kualitas lagu, konteks baru, visual yang menarik, nostalgia, perilaku pengguna media sosial, serta kemudahan berpindah dari video pendek menuju platform streaming. Ketika semua faktor tersebut bertemu, lagu yang sempat “tidur” selama puluhan tahun bisa kembali terdengar di mana-mana, masuk tangga lagu, dan bahkan menjadi lebih dikenal oleh generasi yang lahir jauh setelah lagu tersebut pertama kali dibuat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....