Untukmu yang Sempat Mengeluh

  • 31 Mei 2026 21:08 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Perjalanan ini awalnya hanya sekadar untuk menemani, Abang Saya Sebagai Supir Mobil Sampah. namun seiring berjalannya hari, rute perjalanan ini justru berubah menjadi sebuah perjalanan spiritual dan edukasi yang menampar kesadaran saya tentang realitas kehidupan yang sebenarnya.

Berada di garda depan pengelolaan limbah memberikan sudut pandang yang sama sekali baru dalam benak saya. Setiap hari, truk yang kami kendarai bergerak membelah jalanan kota menuju sebuah kawasan yang dihindari oleh sebagian besar orang: tempat pengumpulan dan pembuangan sampah. Di sinilah, di tengah aroma menyengat yang menusuk hidung dan kepulan debu di antara tumpukan limbah yang menggunung, saya menyaksikan langsung drama perjuangan hidup yang luar biasa dari puluhan pasang mata.

Pelajaran berharga pertama yang saya petik dari lapangan adalah tentang betapa sulit dan mahalnya biaya untuk menyambung hidup di era sekarang. Di dalam dan di sekeliling bak sampah yang penuh dengan sisa kotoran manusia modern, saya melihat puluhan orang bertaruh nasib setiap detiknya. Mereka tidak sedang mengeluh atau meminta iba, melainkan sedang bekerja keras memilah-milah limbah demi sekeping uang untuk makan dan membiayai kebutuhan keluarga mereka di rumah.

Pemandangan ini seketika meruntuhkan banyak asumsi di kepala saya. Di atas bak sampah itu, perjuangan mencari nafkah tidak lagi mengenal sekat gender atau usia. Mereka yang mengais rezeki di atas gunungan sampah itu bukan hanya para bapak yang memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Lebih dari itu, saya juga melihat sosok para ibu di sana. Perempuan-perempuan tangguh itu berdiri tegak di antara lalat dan bau menyengat, dengan tangan yang cekatan mengais lembar demi lembar plastik atau material yang masih memiliki nilai jual.

Rasa jijik dan bau busuk yang biasanya membuat orang awam memalingkan muka, seolah menguap begitu saja dari sekujur tubuh mereka. Bagi mereka, bau bukanlah musuh; melainkan kemiskinan dan ketidakmampuan untuk memberi makan anak-istri di rumahlah yang menjadi ketakutan terbesar. Apa yang ada di dalam pikiran mereka saat itu sangatlah bersahaja namun mendalam: bagaimana hari ini bisa menemukan barang bekas, karung, kardus, atau plastik yang biasa mereka sebut "karah" untuk bisa ditukarkan menjadi rupiah. Setiap gerakan tangan mereka adalah simbol dari harapan agar dapur di rumah tetap mengepul dan anak-anak mereka tetap bisa mengenyam pendidikan.

Melihat pemandangan tersebut secara langsung membuat saya terdiam dan merenung panjang di sepanjang jalan pulang. Pikiran saya seketika melayang kembali ke masa-masa ketika saya masih menyandang status sebagai mahasiswa di perguruan tinggi. Dulu, hidup berjalan dengan ritme yang relatif aman dan nyaman. Fokus utama saya hanyalah ruang kelas, buku-buku teori, diskusi akademis, dan urusan tugas-tugas kuliah. Sebagai mahasiswa, saya hidup dalam lingkungan yang cenderung terisolasi dari kerasnya dunia kerja kasar.

Jujur saja, dulu saya tidak pernah mengalami, apalagi melihat secara langsung, bagaimana manusia harus memeras keringat di tempat yang paling tidak higienis sekalipun hanya demi menghasilkan uang. Pengalaman satu minggu ini benar-benar membuka mata saya bahwa di luar sana, struktur ekonomi memaksa sebagian saudara kita untuk bertahan hidup dengan cara yang amat berat. Pengalaman ini mengajarkan betapa berharganya setiap lembar uang yang kita miliki saat ini, karena di balik nilai nominalnya, ada keringat, air mata, dan harga diri yang dipertaruhkan oleh seseorang.

Artikel ini sengaja ditulis sebagai bentuk edukasi bersama, sebuah pengingat bagi kita semua yang sering kali lupa akan esensi dari rasa syukur. Melalui perjalanan bersama truk sampah ini, saya belajar memahami betapa beratnya beban dan tanggung jawab menjadi orang tua. Menjadi orang tua bukan sekadar membesarkan anak, melainkan kesiapan untuk membuang jauh-jauh ego, gengsi, dan rasa jijik demi masa depan generasi penerus. Para ayah dan ibu di bak sampah itu adalah contoh nyata dari pengorbanan tanpa batas yang sejati.

Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa atau lulusan baru (fresh graduate), penting untuk menyadari bahwa dunia nyata memiliki spektrum yang sangat luas dan tidak selalu seindah teori di atas kertas. Teori-teori di bangku kuliah terkadang tidak mampu memotret dengan utuh betapa tajamnya jurang kehidupan sosial di lapangan. Ketika kita merasa lelah mencari kerja, merasa bosan dengan pekerjaan yang ada, atau merasa uang yang kita miliki selalu kurang, ingatlah bahwa ada orang-orang yang harus berteman dengan sampah setiap hari hanya untuk memastikan keluarganya tidak kelaparan.

Satu minggu bersama truk sampah ini tidak hanya memberikan saya cerita harian, tetapi mengubah cara pandang saya dalam menghargai kehidupan. Uang bukan sekadar alat tukar, ia adalah representasi dari martabat dan perjuangan hidup seseorang. Mari kita mulai menghargai sekecil apapun rezeki yang kita terima hari ini, kurangi mengeluh, dan perluas empati kita kepada mereka yang berjuang di jalan-jalan sunyi yang kerap tak terlihat oleh mata dunia.

Sumber: Yayandi Saputra S.Kom; https://www.kompasiana.com/yayandisaputra211464/6a0a2773ed64154cb948ec82/untukmu-yang-sempat-mengeluh?page=all#section1

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....