Sinopsi Buku "Risalah Rindu pada Cahaya Tak Bertepi"
- 29 Apr 2026 16:02 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Saat fajar menyapa di beranda pikiran, Aksara berdiri menatap ufuk yang masih samar. Baginya, setiap pagi bukanlah sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah undangan terbuka untuk menelusuri lorong-lorong rahasia semesta yang belum terjamah oleh nalar. Ada getaran aneh di dadanya, sebuah tarikan magnetis menuju sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Di sudut perpustakaan tua yang aroma bukunya seperti tanah setelah hujan, Aksara bertemu dengan Saga. Saga bukanlah sekadar penjaga buku, melainkan seorang pengembara akal yang telah memetakan ribuan keraguan. "Ilmu itu bukan untuk dimiliki, Aksara," bisik Saga sambil menyodorkan sebuah kompas tua yang jarumnya tidak menunjuk ke utara, melainkan ke arah tanda tanya.
Aksara mulai menyadari bahwa setiap lembar buku yang ia baca adalah sebuah pertemuan kasih. Memahami hukum alam terasa seperti mengenal detak jantung kekasih. Namun, semakin ia tahu, semakin ia merasa haus. "Rindu ini," tulis Aksara dalam jurnalnya, "adalah dahaga akan kebenaran yang tak akan pernah tuntas hanya dengan sekali teguk."
"Jangan menelan mentah-mentah apa yang berkilau," peringat Saga saat mereka berjalan di taman labirin. Saga mengajarkan Aksara tentang pisau bedah logika, bagaimana cara membedah prasangka dan menguliti dogma. Berpikir kritis adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada akal, sebuah keberanian untuk berkata 'mengapa' di tengah kerumunan yang hanya bisa mengangguk.
Suatu malam, Aksara merasa tersesat dalam kerumitan teori yang saling berbenturan. Ia merasa kecil di hadapan misteri ruang dan waktu. Di saat itulah, kalimat itu mengalir dari jiwanya: "Mengadu rindu ku pada-Mu." Baginya, 'Mu' adalah Kebenaran Absolut, sebuah muara dari segala pencarian yang tak kunjung usai.
Saga menghampiri Aksara yang terpaku menatap mikroskop. "Kau lihat itu?" tanya Saga lembut. Di balik lensa, sebuah dunia mikroskopis menari dengan keteraturan yang puitis. Aksara menyadari bahwa rindu akan ilmu adalah bentuk dedikasi; sebuah janji setia untuk terus mencari meski jawaban seringkali bersembunyi di balik lapisan ketidakpastian.
Perjalanan ini tidak selalu tentang menemukan cahaya; terkadang ia adalah tentang belajar berjalan di dalam gelap. Aksara memahami bahwa keraguan bukanlah musuh, melainkan kawan perjalanan yang menjaga langkah agar tidak angkuh. "Setiap 'tidak tahu' adalah sebuah ruang kosong yang menunggu untuk diisi dengan cinta," bisik Aksara pada sunyi.
Saga membawa Aksara ke puncak sebuah menara pengintai. Dari sana, dunia tampak seperti hamparan rajutan benang yang saling terhubung. "Logika adalah sayapmu, Aksara, tapi rasa ingin tahu adalah anginnya," kata Saga. Mereka melihat bagaimana setiap penemuan kecil adalah satu langkah lebih dekat menuju pelukan sang Hakikat.
Kini, Aksara tidak lagi mencari akhir dari perjalanannya. Ia telah jatuh cinta pada prosesnya. Menyapa setiap teori baru dengan keramahan seorang sahabat, dan mengadu setiap kerinduannya pada luasnya cakrawala. Ilmu pengetahuan bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah tarian abadi antara manusia dan semesta yang tak terhingga.
"Terima kasih telah mengajarkanku cara merindu," ucap Aksara kepada Saga saat mereka duduk di tepi danau yang tenang. Saga tersenyum, melihat Aksara yang kini telah menjadi pengejar cahaya sejati. Rindu itu tetap ada, tak akan pernah padam, karena kebenaran adalah kekasih yang selalu menanti untuk ditemukan kembali, lagi dan lagi.
Sumber : (Hasna Balqis, https://www.kompasiana.com/hasnabalqis5606/6949d2dbc925c437a6437772/risalah-rindu-pada-cahaya-tak-bertepi).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....