Sivitas BTP Gali Potensi Kuliner Melayu untuk Kemandirian Pangan Pesisir Kepri
- 19 Sep 2026 11:54 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Kekayaan bahari dan tradisi kuliner Melayu di Kepulauan Riau (Kepri) dinilai memiliki potensi strategis yang lebih luas daripada sekadar daya tarik wisata dan cita rasa. Warisan pangan masyarakat pesisir dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan sekaligus kemandirian pangan berbasis potensi lokal. Perspektif tersebut menjadi landasan tim akademisi Batam Tourism Polytechnic (BTP) dalam mengembangkan kajian mengenai pemanfaatan identitas kuliner Melayu untuk mendukung keberlanjutan pangan masyarakat pesisir.
Gagasan itu diwujudkan melalui penelitian bertajuk “Model Ketahanan dan Kemandirian Pangan Berbasis Identitas Kuliner Melayu pada Komunitas Pesisir Provinsi Kepulauan Riau (Studi Kasus: Tanjungpinang, Bintan, Karimun)”. Penelitian dipimpin Wahyudi Ilham, S.I.Kom., M.M.Par., bersama tim akademisi lintas bidang yang terdiri atas Dr. Syafruddin Rais, M.Par., Moh. Thandzir, S.E., M.M., Roni Adi, S.E., M.M., serta Ir. Aulia Agung Dermawan, S.T., M.T., IPM.
Tanjungpinang, Bintan, dan Karimun dipilih sebagai wilayah utama penelitian karena memiliki karakter masyarakat maritim dengan keterikatan kuat terhadap sumber daya laut dan tradisi pengolahan pangan setempat. Melalui survei lapangan dan analisis, tim peneliti mengidentifikasi pola konsumsi masyarakat, pemanfaatan bahan pangan asli daerah, serta berbagai faktor sosial dan ekonomi yang berpengaruh terhadap keberlanjutan pangan komunitas pesisir.
Wahyudi Ilham mengatakan, kearifan lokal yang diwariskan para leluhur dalam mengolah hasil alam memiliki nilai penting untuk dikembangkan dalam konteks ketahanan pangan masa kini. Menurutnya, penelitian tersebut berupaya mempertemukan potensi bahan pangan lokal, kekayaan budaya Melayu, dan pemberdayaan masyarakat sehingga kawasan pesisir Kepri dapat membangun ekosistem pangan yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Pengembangan model berbasis identitas kuliner Melayu juga berpotensi memberikan manfaat pada sektor ekonomi kreatif dan pariwisata. Produk pangan khas pesisir dapat dikembangkan tidak hanya sebagai konsumsi rumah tangga, tetapi juga sebagai produk bernilai tambah melalui pengolahan, pengemasan, standardisasi, serta pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Upaya tersebut sekaligus dapat memperkuat keterlibatan pelaku usaha mikro, nelayan, pembudidaya, dan komunitas kuliner dalam rantai ekonomi lokal.
Hasil penelitian BTP ini diproyeksikan menghasilkan model yang aplikatif bagi pemerintah, pemangku kepentingan, maupun komunitas pesisir di Kepulauan Riau. Pendekatan berbasis budaya diharapkan dapat membantu menjaga keberlanjutan pengetahuan pangan tradisional sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara bijak. Dengan demikian, identitas kuliner Melayu tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Penelitian tersebut mendapat dukungan pendanaan melalui skema Program Penelitian Fundamental Reguler (PFR) BIMA Tahun Anggaran 2026 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Tim peneliti BTP menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut berdasarkan Nomor Kontrak Induk 296/C3/DT.05.00/PL-Baru/2026 dan Nomor Kontrak Turunan 105/LL17/BOPTN PL BARU/2026. Dukungan riset ini diharapkan dapat memperkuat pengembangan inovasi pangan berbasis kearifan lokal sekaligus memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan ketahanan pangan di wilayah kepulauan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....