Tim Peneliti ITEBA Kembangkan Ketahanan Pangan Berbasis Kuliner Melayu

  • 16 Sep 2026 04:47 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Tim peneliti mengembangkan model ketahanan dan kemandirian pangan berbasis identitas kuliner Melayu pada komunitas pesisir Provinsi Kepulauan Riau. Penelitian bertajuk “Model Ketahanan dan Kemandirian Pangan Berbasis Identitas Kuliner Melayu Pada Komunitas Pesisir Provinsi Kepulauan Riau (Studi Kasus: Tanjungpinang, Bintan, Karimun)” ini menjadi upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat melalui pendekatan budaya, ekonomi, dan identitas kuliner lokal.

Penelitian tersebut didanai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Program Penelitian Fundamental Reguler (PFR) BIMA Tahun 2026. Pelaksanaannya mengacu pada Nomor Kontrak Induk 296/C3/DT.05.00/PL-Baru/2026 dan Nomor Kontrak Turunan 105/LL17/BOPTN PL BARU/2026. Tim penelitian diketuai Wahyudi Ilham, S.I.Kom., M.M.Par., dengan anggota Dr. Syafruddin Rais, M.Par., Moh. Thandzir, S.E., M.M., Roni Adi, S.E., M.M., serta Ir. Aulia Agung Dermawan, S.T., M.T., IPM.

Tanjungpinang, Bintan, dan Karimun dipilih sebagai lokasi studi karena memiliki karakteristik masyarakat pesisir dengan kekayaan budaya kuliner Melayu yang erat dengan pemanfaatan sumber daya lokal. Hasil laut dan berbagai bahan pangan tradisional menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sekaligus memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai basis sistem pangan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Melalui penelitian ini, tim akan mengidentifikasi pola konsumsi pangan masyarakat pesisir, pemanfaatan bahan pangan lokal, praktik pengolahan kuliner Melayu, hingga faktor sosial ekonomi yang memengaruhi keberlanjutan pangan. Kajian tersebut diharapkan mampu memetakan hubungan antara kekayaan kuliner lokal dengan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan secara berkelanjutan.

Ketua tim penelitian, Wahyudi Ilham, S.I.Kom., M.M.Par., menyampaikan bahwa kuliner Melayu tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berpotensi menjadi instrumen penguatan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah. “Melalui penelitian ini, kami ingin menghasilkan model yang mampu menghubungkan potensi pangan lokal, kearifan budaya Melayu, serta pemberdayaan komunitas pesisir agar memiliki sistem pangan yang lebih kuat dan mandiri,” ujar Wahyudi.

Model yang dihasilkan nantinya diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan strategi ketahanan pangan berbasis budaya lokal di wilayah pesisir. Selain memberikan kontribusi akademik, penelitian ini juga berpotensi memberikan manfaat praktis bagi masyarakat, pemerintah daerah, serta pelaku usaha kuliner lokal untuk mengembangkan produk pangan dan kuliner yang memanfaatkan sumber daya daerah sekaligus mempertahankan identitas budaya Melayu.

Dukungan Program PFR BIMA Tahun 2026 menjadikan penelitian ini bagian dari penguatan riset yang berorientasi pada potensi daerah dan kebutuhan masyarakat. Pengembangan pangan berbasis identitas kuliner Melayu diharapkan tidak hanya membantu memperkuat kemandirian pangan komunitas pesisir, tetapi juga mendorong pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi, serta pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih berkelanjutan di Kepulauan Riau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....