Hunian “Berhantu” di Jepang Kini Jadi Pilihan

  • 30 Jun 2025 16:26 WIB
  •  Batam

KBRN, Batam: Di tengah melonjaknya harga properti dan tekanan biaya hidup, rumah-rumah bekas lokasi kematian tragis atau dikenal sebagai “jiko bukken” di Jepang justru mulai menarik perhatian pembeli dan penyewa. Properti-properti ini dulunya dihindari karena stigma kematian, baik karena bunuh diri, pembunuhan, atau kematian sendirian yang tak terdeteksi dalam waktu lama.

Fenomena ini didorong oleh lonjakan harga hunian di kota-kota besar seperti Tokyo. Rata-rata harga kondominium bekas ukuran 70 meter persegi di 23 distrik utama Tokyo naik lebih dari sepertiga pada Mei 2025 dibanding tahun sebelumnya, mencapai sekitar 100,9 juta yen (setara S$890.000). Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya biaya material dan tenaga kerja serta arus masuk investor asing yang tertarik oleh lemahnya nilai tukar yen.

Sementara itu, populasi Jepang yang menua turut memperbanyak kasus kematian sosial terisolasi. Pada tahun 2024, tercatat hampir 21.900 kasus kematian yang tidak diketahui selama lebih dari delapan hari. Hal ini menyebabkan kekhawatiran di kalangan pemilik properti, yang khawatir rumah mereka kelak menyandang status “jiko bukken”, dan menjadi sulit untuk disewakan kembali.

Untuk mengurangi stigma, pemerintah Jepang telah mengeluarkan pedoman pada tahun 2021 yang memungkinkan properti bisa dilepas dari label “tidak menguntungkan” setelah tiga tahun sejak kejadian. Meski begitu, agen properti tetap wajib mengungkapkan riwayat rumah kepada calon pembeli atau penyewa bila ditanyakan. Seiring berkembangnya pasar ini, muncul pula layanan seperti penyelidikan paranormal dan ritual pemurnian spiritual untuk memberikan rasa aman tambahan bagi penyewa baru.

Tren ini bahkan menarik minat investor, terutama dari luar negeri, karena potensi keuntungan yang lebih tinggi. Sementara apartemen studio biasa di Tokyo hanya menawarkan imbal hasil sekitar 3,5 persen, properti bekas lokasi kematian bisa mencapai pengembalian hingga 8,4 persen. Meski sebagian orang masih merasa enggan, bagi banyak pemburu properti, harga miring dan potensi laba yang tinggi membuat hunian “berhantu” ini tidak lagi tabu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....