Mengenal Fenomena FOMO dan JOMO di Kalangan Anak Muda
- 20 Jun 2026 10:21 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Di tengah derasnya arus informasi di era digital, istilah FOMO (Fear of Missing Out) dan JOMO (Joy of Missing Out) kini semakin akrab di telinga generasi muda. Kedua konsep ini mencerminkan bagaimana seseorang merespons ledakan tren, aktivitas, dan informasi yang berseliweran setiap hari di media sosial. FOMO sendiri merujuk pada kecemasan atau rasa takut tertinggal dari momen-momen seru yang sedang dinikmati orang lain. Perasaan ini biasanya terpicu saat seseorang melihat unggahan teman yang sedang menghadiri acara bergengsi, mengunjungi tempat yang sedang viral, atau membagikan pencapaian tertentu. Akibatnya, muncul dorongan impulsif untuk selalu memantau media sosial, memaksakan diri mengikuti setiap tren, atau menghadiri berbagai agenda hanya demi validasi sosial agar tidak merasa tersisih. Jika dibiarkan tanpa kendali, fenomena FOMO ini rentan memicu stres, kecemasan emosional, hingga rasa tidak puas yang mendalam terhadap kualitas hidup sendiri.
Sebagai antitesis dari fenomena tersebut, belakangan ini muncul konsep JOMO yang menawarkan sudut pandang yang jauh lebih menenangkan. JOMO menggambarkan kemampuan dan kedewasaan seseorang untuk tetap merasa nyaman, puas, dan bahagia meskipun mereka memilih untuk absen dari tren atau aktivitas yang sedang populer. Alih-alih sibuk mengamati kehidupan orang lain, individu yang menerapkan JOMO memilih untuk mengalihkan energinya pada kebutuhan personal dan kebahagiaan diri sendiri. Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental, gerakan JOMO ini pun kian diminati oleh anak muda. Mereka mulai menyadari bahwa tidak semua hal di dunia digital harus diikuti, dan meluangkan waktu untuk beristirahat atau menikmati kesendirian adalah bentuk investasi diri yang sangat berharga. Salah satu contoh nyata dari penerapan JOMO adalah keputusan untuk menghabiskan akhir pekan di rumah dengan membaca buku atau berkumpul bersama keluarga, ketimbang memaksakan diri datang ke acara yang ramai dibicarakan hanya karena gengsi.
Meski terlihat bertolak belakang, baik FOMO maupun JOMO pada dasarnya tidak bisa dicap sepenuhnya buruk atau baik secara mutlak. Pada situasi tertentu, rasa FOMO sebenarnya bisa menjadi pemantik motivasi yang positif bagi seseorang untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba pengalaman baru yang bermanfaat. Sementara itu, JOMO berperan penting sebagai rem darurat yang membantu kita menetapkan batasan yang sehat dalam berinteraksi dengan dunia luar. Kunci utamanya terletak pada kemampuan kita dalam menemukan titik keseimbangan yang ideal. Tidak ada salahnya ikut meramaikan tren yang ada, asalkan keputusan tersebut lahir dari keinginan yang tulus, bukan karena tekanan lingkungan atau ketakutan akan label "kurang eksis". Dengan memahami dinamika antara FOMO dan JOMO, generasi muda diharapkan bisa lebih bijak dalam berselancar di media sosial, sekaligus mampu memfilter hal-hal yang benar-benar membawa manfaat nyata bagi kebahagiaan hidup mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....