Asal Usul Kain Jarik dan Ragam yang Dikenakan Kartini
- 20 Apr 2026 08:44 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam – Kain jarik merupakan salah satu elemen penting dalam busana tradisional Jawa yang memiliki nilai historis, estetika, sekaligus filosofis. Dalam konteks peringatan Hari Kartini, keberadaan jarik tidak dapat dilepaskan dari identitas Raden Ajeng Kartini sebagai perempuan Jawa yang hidup dalam tradisi sekaligus membawa gagasan pembaruan.
Secara terminologis, “jarik” merujuk pada kain batik panjang yang digunakan sebagai bawahan, dililitkan di tubuh dengan teknik tertentu. Kata “jarik” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti kain panjang. Dalam praktiknya, jarik bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga simbol status sosial, nilai moral, dan identitas kultural.
Sejarah penggunaan jarik berakar kuat pada tradisi keraton Jawa, khususnya di lingkungan Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Pada masa itu, motif batik tertentu hanya boleh dikenakan oleh kalangan bangsawan. Sebagai putri dari keluarga priyayi, Kartini mengenakan jarik tidak hanya sebagai pakaian sehari-hari, tetapi juga sebagai representasi nilai budaya yang melekat pada dirinya.
Adapun beberapa jenis motif jarik yang identik dengan gaya busana Kartini antara lain:
Motif Parang
Motif ini dikenal sebagai simbol kekuatan, keteguhan, dan kesinambungan. Parang dulunya hanya dikenakan oleh keluarga kerajaan, mencerminkan kewibawaan dan kekuasaan.
Motif Kawung
Kawung melambangkan kesucian dan pengendalian diri. Polanya yang simetris mencerminkan harmoni dan keseimbangan hidup, nilai yang sejalan dengan etika Jawa yang dijunjung tinggi pada masa Kartini.
Motif Sidomukti
Motif ini mengandung harapan akan kehidupan yang makmur dan bahagia. Sidomukti kerap digunakan dalam acara-acara penting, termasuk pernikahan.
Motif Truntum
Truntum memiliki makna cinta yang tumbuh kembali dan kesetiaan. Dalam tradisi Jawa, motif ini sering dikenakan oleh orang tua dalam prosesi pernikahan sebagai simbol tuntunan.
Dalam perspektif budaya, pemilihan motif jarik oleh Kartini tidak bersifat arbitrer, melainkan sarat makna simbolik yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan Jawa. Namun demikian, Kartini juga menunjukkan sikap progresif dengan tetap mengenakan busana tradisional sambil memperjuangkan pemikiran modern, khususnya terkait pendidikan dan kesetaraan perempuan.
Dengan demikian, kain jarik tidak hanya dapat dipahami sebagai produk tekstil, tetapi sebagai artefak budaya yang merepresentasikan dialektika antara tradisi dan modernitas. Dalam figur Kartini, jarik menjadi simbol bahwa identitas lokal dapat berjalan beriringan dengan semangat perubahan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....