Seri Rambai, Meriam Legendaris yang Menjadi Saksi Sejarah Selat Malaka
- 31 Agt 2026 22:45 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Sebuah meriam perunggu berusia lebih dari empat abad berdiri di Benteng Cornwallis, George Town, Pulau Pinang, Malaysia. Meriam bernama Seri Rambai itu bukan sekadar peninggalan militer masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari legenda, simbol budaya dan kisah panjang perebutan pengaruh di kawasan Selat Malaka.
Dilansir dari Wikipedia, Seri Rambai merupakan meriam buatan Belanda yang dicetak pada 1603. Dengan panjang sekitar 325 sentimeter dan kaliber 15 sentimeter, meriam ini disebut sebagai meriam perunggu terbesar di Malaysia. Seri Rambai kini berada di Benteng Cornwallis, kawasan yang menjadi bagian dari George Town dan masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO.
Sejarah Seri Rambai bermula pada awal abad ke-17 ketika Perusahaan Hindia Timur Belanda atau VOC membawanya ke kawasan Selat Malaka. Meriam tersebut kemudian dipersembahkan kepada Sultan Johor sebagai bagian dari upaya Belanda memperoleh konsesi perdagangan. Namun, keberadaan meriam itu di Johor tidak berlangsung lama.
Pada 1613, Kesultanan Aceh menyerang Johor dan menghancurkan sejumlah bagian wilayah kesultanan. Dalam serangan tersebut, Sultan Johor ditawan dan Seri Rambai dibawa ke Aceh. Beberapa abad kemudian, menjelang akhir abad ke-18, meriam itu dikirim Aceh ke Selangor dan ditempatkan di dekat salah satu benteng di wilayah tersebut.
Perjalanan Seri Rambai kembali berubah pada 1871. Pemerintah kolonial Inggris menyerang Selangor sebagai balasan atas serangan bajak laut. Kota dan benteng di wilayah itu dibakar dan dihancurkan, sementara Seri Rambai dirampas. Meriam tersebut kemudian dibawa ke George Town dan disimpan di kawasan Esplanade sebelum akhirnya dipindahkan ke Benteng Cornwallis pada 1950-an.
Selain nilai sejarahnya, Seri Rambai juga memiliki karakteristik fisik yang membuatnya mudah dikenali. Pada bagian depan meriam terdapat ornamen tiga pasang singa heraldik dengan ekor panjang yang melingkar. Setiap pasangan singa mengapit sebuah vas berisi bunga. Meriam ini juga memiliki pegangan berbentuk menyerupai lumba-lumba serta tanda pembuat dan tahun pembuatannya di bagian pangkal.
Seri Rambai juga tidak lepas dari tradisi dan kepercayaan masyarakat mengenai kekuatan simbolis meriam tua. Dalam sejarah Asia Tenggara, sejumlah meriam tidak hanya dipandang sebagai senjata, tetapi juga dikaitkan dengan kekuatan supranatural, spiritualitas, identitas budaya hingga kesuburan. Karena itu, Seri Rambai menjadi salah satu contoh bagaimana benda peninggalan perang dapat berkembang menjadi bagian dari cerita rakyat dan budaya masyarakat.
Kisah tersebut menempatkan Seri Rambai dalam tradisi panjang penghormatan terhadap meriam bersejarah di Asia Tenggara. Di Jakarta, misalnya, Meriam Si Jagur dikenal memiliki kaitan dengan simbol kesuburan. Sementara Phaya Tani di Thailand menjadi bagian dari identitas budaya Pattani setelah sebelumnya direbut dari Kesultanan Pattani.
Kini, Seri Rambai tidak lagi digunakan sebagai senjata perang. Meriam tersebut menjadi peninggalan sejarah yang merekam persaingan kekuatan Eropa dan kerajaan-kerajaan lokal di kawasan Selat Malaka. Keberadaannya di Benteng Cornwallis mengingatkan bahwa sejarah kawasan tersebut tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi juga dalam benda-benda yang melewati berbagai kerajaan, kekuasaan kolonial dan perubahan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....