Perpustakaan Aleksandria, Pusat Ilmu Pengetahuan Kuno yang Hilang Perlahan

  • 31 Agt 2026 22:45 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Selama berabad-abad, Perpustakaan Besar Aleksandria dikenal sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan paling penting di dunia kuno. Berdiri di kota Aleksandria, Mesir, perpustakaan ini menjadi tempat berkumpulnya para cendekiawan yang mempelajari berbagai bidang ilmu pada masa Helenistik.

Dilansir dari Wikipedia, Perpustakaan Besar Aleksandria merupakan bagian dari sebuah lembaga penelitian yang lebih besar bernama Mouseion, yang didedikasikan untuk para Musai atau sembilan dewi seni dan kebudayaan dalam mitologi Yunani. Gagasan membangun perpustakaan yang menghimpun pengetahuan dari berbagai bidang kemungkinan muncul pada masa pemerintahan Ptolemaios I Soter.

Rancangan perpustakaan tersebut kemungkinan telah disiapkan pada masa Ptolemaios I, tetapi pembangunannya diperkirakan baru berlangsung pada masa pemerintahan putranya, Ptolemaios II Filadelfos. Dukungan dari para penguasa Wangsa Ptolemaios membuat koleksi perpustakaan berkembang pesat. Jumlah gulungan papirus yang pernah tersimpan di dalamnya tidak diketahui secara pasti, dengan perkiraan modern berkisar antara 40.000 hingga 400.000 gulungan.

Koleksi yang sangat besar menjadikan Aleksandria sebagai salah satu pusat pembelajaran terkemuka pada abad ketiga dan kedua sebelum Masehi. Sejumlah cendekiawan terkenal bekerja atau berkarya di lingkungan perpustakaan, termasuk Zenodotos dari Efesos, Kalimakos, Apolonios dari Rodos dan Eratostenes dari Kirene.

Eratostenes, misalnya, dikenal karena menghitung keliling Bumi dengan tingkat ketepatan yang luar biasa untuk zamannya. Sementara itu, Kalimakos menyusun Pinakes, karya yang kerap dianggap sebagai salah satu katalog perpustakaan pertama di dunia. Para sarjana lainnya juga berperan besar dalam mengembangkan kajian bahasa, sastra dan penyuntingan naskah Yunani kuno.

Pada masa Ptolemaios III Euergetes, sebuah cabang perpustakaan juga didirikan di Serapeion, sebuah kuil yang didedikasikan untuk Serapis, dewa dalam tradisi keagamaan Yunani-Mesir. Keberadaan lembaga utama dan cabangnya menunjukkan besarnya ambisi penguasa Aleksandria untuk menjadikan kota tersebut sebagai pusat pengetahuan.

Namun, kisah kehancuran Perpustakaan Aleksandria ternyata tidak sesederhana cerita populer mengenai sebuah perpustakaan besar yang musnah dalam satu kebakaran. Para sejarawan justru menggambarkan kemundurannya sebagai proses panjang yang berlangsung selama beberapa abad.

Salah satu titik penting terjadi pada 145 SM ketika Ptolemaios VIII Fiskon memerintahkan pengusiran sejumlah cendekiawan dari Aleksandria. Keputusan tersebut menyebabkan banyak sarjana meninggalkan kota. Aristarkos dari Samotrakia, yang saat itu menjadi kepala perpustakaan, mengundurkan diri dan kemudian mengasingkan diri ke Siprus.

Perpustakaan atau sebagian koleksinya memang kemungkinan mengalami kebakaran pada 48 SM ketika Yulius Kaisar terlibat dalam perang saudara di Aleksandria. Namun, jumlah gulungan yang hancur dalam peristiwa tersebut tidak diketahui secara pasti. Bukti sejarah juga menunjukkan bahwa aktivitas keilmuan di Aleksandria tidak langsung berakhir setelah kebakaran itu.

Strabo, seorang ahli geografi pada masa Romawi, menulis bahwa dirinya pernah mengunjungi Mouseion sekitar 20 SM. Karya Didimos Kalkenteros yang hidup pada periode tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian koleksi pengetahuan di Aleksandria kemungkinan masih dapat diakses.

Kemunduran berlanjut pada masa Kekaisaran Romawi, antara lain karena persoalan pendanaan. Pada sekitar dasawarsa 260-an, keanggotaan perpustakaan tampaknya sudah tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Pemberontakan di Aleksandria pada 270 hingga 275 dan serangan balasan Romawi kemudian diduga menghancurkan bagian yang tersisa, meskipun keberadaan perpustakaan pada masa tersebut masih menjadi bahan perdebatan.

Cabang perpustakaan di Serapeion kemungkinan bertahan lebih lama. Kompleks tersebut akhirnya dihancurkan pada 391 setelah adanya maklumat dari Teofilos, Uskup Aleksandria. Namun, pada saat itu, bangunan tersebut tampaknya sudah tidak lagi berfungsi sebagai perpustakaan dan lebih banyak digunakan sebagai tempat berkumpul para filsuf Neoplatonis.

Hilangnya Perpustakaan Besar Aleksandria dengan demikian bukan sekadar kisah tentang api yang melalap ribuan buku dalam satu malam. Sejarahnya lebih menyerupai proses kemunduran panjang yang dipengaruhi perubahan politik, pengusiran cendekiawan, persoalan pendanaan, konflik bersenjata dan perubahan kehidupan intelektual kota.

Meski bangunannya telah lama menghilang, nama Perpustakaan Aleksandria tetap menjadi simbol ambisi manusia untuk mengumpulkan dan menjaga pengetahuan. Kisahnya juga menjadi pengingat bahwa pusat ilmu pengetahuan dapat bertahan bukan hanya karena memiliki koleksi besar, tetapi juga karena adanya dukungan politik, kebebasan intelektual dan komunitas ilmuwan yang terus merawatnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....