Konflik Hormuz Berpotensi Dongkrak Harga Minyak

  • 17 Jul 2026 11:08 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent berpotensi melonjak melampaui USD110 per barel pada kuartal IV-2026 apabila pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia terus mengalami hambatan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs menyebut pasar minyak fisik mulai mengetat setelah serangan terbaru terhadap kapal tanker di Selat Hormuz menghambat arus ekspor minyak. Harga Brent pun kembali bergerak di kisaran pertengahan USD80 per barel sehingga meningkatkan risiko kenaikan harga dalam jangka pendek.

Bank investasi tersebut menilai ancaman utama berasal dari kemungkinan serangan lanjutan terhadap kapal tanker maupun infrastruktur energi. Mengacu pada dampak blokade Amerika Serikat terhadap Iran pada April lalu, pemberlakuan kembali blokade terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran diperkirakan dapat memangkas ekspor minyak negara itu sebesar 1,5 juta hingga 2 juta barel per hari.

"Situasi ini kemungkinan membutuhkan penurunan permintaan yang lebih besar dan kembali terjadi pengurangan persediaan apabila tidak ada deeskalasi dalam waktu dekat," ujar strategis Goldman Sachs yang dipimpin Yulia Zhestkova Grigsby.

Di sisi lain, Goldman Sachs menilai harga minyak juga masih berpotensi turun menuju kisaran USD60 per barel pada akhir tahun apabila produksi global meningkat lebih cepat dari perkiraan dan pemulihan permintaan berjalan lebih lambat. Meski demikian, risiko harga dalam jangka pendek dinilai lebih condong ke arah kenaikan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....