Goldman Sachs Soroti Risiko Baru Pasar Minyak Global
- 17 Jul 2026 11:09 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Goldman Sachs memperingatkan pasar minyak global kembali menghadapi tekanan pasokan setelah serangan terbaru terhadap kapal tanker di Selat Hormuz mengganggu pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia. Kondisi tersebut membuat pasar minyak fisik mulai mengetat dan mendorong harga minyak Brent kembali bergerak di kisaran pertengahan USD80 per barel.
Dalam laporan terbarunya, bank investasi itu mencatat ekspor minyak dari kawasan Teluk sempat pulih hingga lebih dari 80 persen dari level sebelum perang pada dua pekan pertama setelah tercapainya nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, setelah kembali terjadi serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, aliran ekspor turun menjadi di bawah 50 persen atau sekitar 11 juta barel per hari.
Goldman Sachs memperkirakan pasar saat ini mengalami kekurangan sekitar 13,4 juta barel per hari dari aliran minyak Teluk Persia. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memaksa pasar melakukan penyesuaian melalui pelemahan permintaan dan pengurangan stok minyak global apabila ketegangan tidak segera mereda.
"Situasi ini kemungkinan membutuhkan penurunan permintaan yang lebih besar dan kembali terjadi pengurangan persediaan apabila tidak ada deeskalasi dalam waktu dekat," ujar strategis Goldman Sachs yang dipimpin Yulia Zhestkova Grigsby.
Goldman Sachs juga mengingatkan risiko terhadap pemulihan pasokan masih tinggi akibat potensi serangan lanjutan terhadap kapal tanker maupun infrastruktur energi. Meski demikian, bank tersebut tetap mempertahankan proyeksi harga minyak Brent sebesar USD80 per barel pada kuartal IV-2026 dan USD75 per barel pada 2027, dengan risiko jangka pendek yang kini lebih mengarah pada kenaikan harga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....