Strategi ‘Redshirting’: Mengapa Banyak Orang Tua Memilih Menunda Anak Masuk SD?
- 28 Feb 2026 22:43 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Tren menunda masuk Sekolah Dasar (SD) atau delaying school entry kini menjadi perbincangan hangat di kalangan orang tua urban. Fenomena yang sering disebut sebagai gap year bagi anak TK ini bukan lagi sekadar tren, melainkan strategi pendidikan untuk memastikan anak memiliki kematangan emosional yang cukup sebelum menghadapi kurikulum akademik yang semakin menantang.
Kematangan di Atas Usia Kronologis
Menurut para ahli, kesiapan sekolah tidak bisa hanya diukur dari angka di akta kelahiran. Banyak anak yang secara usia sudah menginjak 6 atau 7 tahun, namun secara motorik halus (seperti memegang pensil) atau kemampuan fokus masih memerlukan waktu untuk berkembang. Inilah yang menjadi alasan utama delaying school entry dilakukan.
"Anak yang dipaksa masuk SD sebelum matang secara emosional berisiko mengalami kecemasan akademik. Sebaliknya, anak yang 'lebih tua' di kelasnya cenderung tampil lebih percaya diri dan mampu memimpin teman-temannya," ungkap seorang praktisi pendidikan anak.
Bukan Sekadar Libur
Namun, para pakar mengingatkan bahwa gap year bagi anak TK bukan berarti anak berhenti belajar total. Satu tahun jeda ini harus diisi dengan kegiatan yang menstimulasi aspek yang masih kurang, misalnya kelas sensorik, olahraga untuk melatih motorik kasar, atau interaksi sosial di komunitas hobi.
Dampak Jangka Panjang
Meskipun memberikan keuntungan secara kepercayaan diri, orang tua juga perlu mempertimbangkan bahwa penundaan ini akan membuat anak lulus lebih lambat dibandingkan teman sebayanya. Oleh karena itu, keputusan ini harus diambil berdasarkan observasi mendalam terhadap karakter anak, bukan sekadar mengikuti tren parenting yang ada.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....